Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juli 2017

Satu Hari Tanpa Alfa

“Kamu kok nggak ikut ke Jakarta?” mama tiba-tiba bertanya, membuatku seketika tersedak sesendok nasi yang baru masuk mulut.

“Jakarta?”

“Alfa, kan, ke Jakarta. Ikut, apa itu, lomba... apa ya. Nyanyi-nyanyi gitu..” mama mengingat-ingat. Aku terdiam sesaat, menghembuskan nafas panjang. Menatap sarapan di piring yang belum habis separuh—mendadak menyesal karena mengambil makanan terlalu banyak, sementara rasanya mulai hambar.

“Seleksi paduan suara tingkat nasional, Ma,”

“Oh iya itu!” mama tertawa, menepuk dahi menyadari kelupaannya. “Kamu kok nggak ikut, Lun?” ulang mama, membuatku terbatuk-batuk. Kali ini karena mama memanggilku ‘Lun’, setelah tadi tersedak karena baru tahu kalau Alfa berangkat ke Jakarta hari ini. Serasa agak bego juga karena aku yang merasa dekat dengan Alfa justru tidak tahu kapan dia menuju ibu kota.

Kamis, 05 Mei 2016

Maafkan Milea-mu, Dilan-ku



13.28.
             
Mataku membuka pelan-pelan, mengerjap-ngerjap. Menoleh pelan ke jendela. Hujan membungkus kota siang ini. Aku menguap lebar-lebar. Meregangkan tubuh. Sebelah tangan meraih ponsel, dan kudapati lima panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Dilanku.
             
Aku tersenyum masam. Aku berjanji akan menonton pertandingan basketnya pukul 14.15 siang ini. Sementara sekarang sudah hampir setengah dua, tapi aku belum apa-apa. Baru bangun dari tidur siang. Dia telah berjanji akan bermain paling bagus untukku. Aku tertawa kecil saat ia mengatakan itu. Tentu saja ia nanti bermain bagus atas nama tim—demi sekolahnya, sekolahku juga. Aku mendesah pelan, menoleh kembali ke jendela. Hujan memelan, berubah jadi gerimis kecil-kecil. Setelah meregangkan tubuh sekali, aku baru bangkit, menuju kamar mandi. Cuci muka, ganti baju, kemudian menuju gelanggang olahraga kota.

Sabtu, 30 April 2016

Kamu (Bukan) Dilan dan Aku (Bukan) Milea



Aku tahu, kamu bukan Dilan, dan diriku bukan Milea. Tapi, tak apa kan, jika kisah kita di masa abu-abu putih ini seperti mereka? Kamu memang bukan anak geng motor seperti Dilan, dan aku juga tidak cantik seperti Milea. Tapi, jika aku dan kamu memberi sedikit warna di masa abu-abu putih ini, siapa tahu kisah kita akan abadi seperti mereka? Ya, meskipun aku tahu bahwa ujungnya, Dilan dan Milea tidak bersama. Aku juga sangat tahu, kamu bukan tipe orang yang ingin melakukan pekerjaan sia-sia—untuk apa berjuang sedemikian rupa jika pada akhirnya tidak akan bersama?

Jumat, 05 September 2014

AB 07



Sudah sejak beberapa hari yang lalu aku suka duduk di depan kamar rawat kakakku.  Oh iya, 2 hari yang lalu kakakku kakinya dioperasi karena patah—jatuh waktu bermain bola. Dan dia dibawa ke sini untuk pemasangan pen dan segala tetek bengek lainnya agar bisa berjalan normal kembali. Syukurlah operasinya berjalan lancar, dan sekarang tinggal pemulihan.

Rabu, 25 Juni 2014

LDR (Luka Dari Rasa) - Episode 3



Ucapan “Selamat pagi Cinta!” sudah semakin akrab di telingaku. Lengkingan suara Ratih juga sudah ber-say hello­ dengan otakku. Jadi, aku tak perlu menggerutu sebal karena tingkahnya yang membuat tetangga resah. Tapi pagi ini, ada sesuatu yang membuat perasaanku tidak enak.

Selasa, 17 Juni 2014

LDR (Luka Dari Rasa) - Episode 2



Aku tersenyum simpul mengingat pemuda bernama Fahri ini. Aku dekat dengan dia, kurang lebih 3 tahun. Selama 3 tahun itu, aku melakukan berbagai adaptasi, penjajakan, dan pengalaman hidup yang membuatku lebih dewasa. Tanpa Fahri sadari, dia telah mengajariku banyak hal. Bagaimana cara bertata krama dengan orang tua, bagaimana untuk tidak ketus dengan teman lawan jenis, bagaimana caranya menjadi siswa berotak IPA tapi berjiwa IPS.

Sabtu, 07 Juni 2014

LDR (Luka Dari Rasa) - Episode 1



“Selamat pagi Cinta!”
            Lengkingan suara Ratih, tetangga sebelahku yang kesekian kali. Kurang lebih 3 bulan aku mendengar suaranya tiap pagi. Membuat hari-hariku 3 bulan ini juga ikut mendung karena setiap hari dibuka oleh lengking suara Ratih. Apa dia sendiri yang punya kekasih? Atau dia sendiri yang punya handphone buat telepon pacar? Dunia miliknya sendiri? Uh!

Senin, 05 Mei 2014

Senja Terakhir (Selesai)




Satu jam yang lalu aku menunggumu di teras rumah dengan perasaan yang makin tak menentu. Kamu belum datang. Sedan hitammu belum juga terlihat. Telfonku juga tak kaujawab. Kemana kamu? Jangan bilang kalau kamu tak jadi menjemputku. Jangan bilang kalau klubmu memanggilmu lagi untuk pertandingan selanjutnya. Terlalu sering hal itu terjadi pada hubungan kita. Tapi aku paham. Kamu jauh lebih menyukai sepak bola daripada diriku. Hatimu terlalu banyak untuk sepak bola. Dan aku bersyukur masih ada ruang di hatimu untukku.

Sabtu, 26 April 2014

Senja Terakhir




Seharusnya ini bukan senja terakhir. Seharusnya ini senja paling membahagiakan untukmu, Seharusnya saat ini kita masih bisa duduk di pinggir pantai sambil tertawa menikmati sunset. Jika saja, 2 jam yang lalu aku berhasil mengurungkan niatmu untuk pergi ke kampus. Jika saja aku sukses menghentikan langkahmu masuk ke sedan hitammu untuk ke kampus, pasti ini bukan senja terakhir kita.

Rabu, 09 April 2014

Dia (Bukan) Untukku - Episode 4



Malam minggu. 2 kata yang biasanya selalu kutunggu. Saat-saat dimana kita sebagai pelajar, dimanjakan dengan 1 kata. Santai. Selama aku hidup, malam minggu tak pernah kulewatkan dengan sia-sia. Tapi, tidak untuk hari ini. Aku merasa bosan dengan acara televisi yang semakin tidak jelas; sosial media yang sudah sangat sering kukunjungi; permainan di komputer yang sudah kuselesaikan sampai level tertinggi.

Sabtu, 29 Maret 2014

Dia (Bukan) Untukku - Episode 3



Setiap aku di luar rumah, dan kebetulan Ravi juga di luar rumah, aku pasti segera bersembunyi ke dalam rumah. Aku masih malu untuk sekedar tahu batang hidungnya. Banyak sekali malu yang kutimbulkan sendiri. Dari yang aku ketus dengan seorang polisi, padahal polisi itu ingin menolongku, sampai aku dengan sok tahunya menduga dia adalah seorang anak kos. Ravi... Ravi... Aku tersenyum sendiri memikirkan tetanggaku itu.

Sabtu, 22 Maret 2014

Dia (Bukan) Untukku - Episode 2



Sudah beberapa hari ini, aku melihat polisi muda itu keluar-masuk kosnya. Bahkan, terkadang membawa motor polisi yang sering kulihat di jalan raya. Keren sih. Coba saja dia tidak membuatku terlambat. Pasti aku betah nangkring di teras ngelihatin dia. Hihi. Pikirku jahil sembari memeriksa tugas buat besok.

Sabtu, 15 Maret 2014

Dia (Bukan) Untukku - Episode 1



Polisi itu menyebalkan! Seenaknya sendiri melakukan tilang pada anak kelas 3 SMA! Padahal aku sudah punya SIM! Parahnya lagi aku lupa membawa surat izin mengemudiku! Apalagi, polisi yang menilangku, beralasan bahwa aku  terlalu muda untuk mengendarai kendaraan bermotor! Apa wajahku masih seperti anak TK he?! It’s okay jika mereka menilangku di siang hari atau malam hari. Tidak di saat aku berangkat sekolah pagi ini! Sial!!

Kamis, 13 Maret 2014

Mas Aldi Datang?




“Semoga Mas Aldi cepat sembuh. Amin,” tepat saat mulutku tertutup, alat pendeteksi detak jantung menunjukkan garis lurus. Seperti yang kulihat di film-film, biasanya jika alat itu menunjukkan garis lurus, berarti....... firasat anehku terjawab. Paranoid, film...... seketika aku jatuh dari kursi dan semuanya menggelap.

Sabtu, 09 November 2013

Dilema (Episode terakhir)



Episode lalu....

Air mataku kian deras.

            “Mas Fian tahu, kamu dilema. Maafin, Mas Fian ya,” Aku memeluk Mas Fian dengan tangis yang semakin tak terbendung.
 

Sabtu, 02 November 2013

Dilema (Episode 4)



Episode lalu...

Aku terduduk lemas di sisi ranjang. Apakah hanya karena perkara Renata, aku dan kakak kandungku sendiri bertengkar? Dengan sepupuku sendiri, hubunganku renggang? Apa mereka tidak tahu alasanku berkata begini? Tak lain, karena aku tak ingin mereka sakit hati.
      Pagi ini, aku memasak daging sapi ala Mama favorit Mas Vano. Dengan harapan, kerinduan dengan Mama agak terobati. Aku sudah menyiapkan nasi beserta lauk, lalu kutinggal mandi bersiap ke sekolah. Usai mandi, kulihat Mas Vano dan Mas Fian sudah mengambil nasi, sarapan.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Dilema (Episode 3)



Episode lalu...
Tekad apa yang harus kupegang agar tak terjatuh saat menyelamatkan Mas Fian dan Mas Vano dari akal licik Renata? Haruskah aku menunggu agar mereka putus? Apakah aku mampu bersabar melihat kakakku sendiri diperdaya? Apakah aku mampu menerima dengan ikhlas kakakku disakiti?
          
Di sekolah, aku masih memikirkan kejadian tempo hari. Pertemuanku dengan Renata dan Mas Vano yang tentu saja mengejutkanku, masih berputar-putar dalam kepalaku. Aku tak ingin diam saja. Aku ingin bertindak. Tapi apa?

Jumat, 18 Oktober 2013

Dilema (Episode 2)



Episode lalu...
Apa yang aneh dengan cewek ini? Apa ada masalah dengannya? Apa ada hubungannya dengan Wirya Utama? Cowok penghuni kelas sebelah yang bikin gue betah ngeliatin dia secara diam-diam.

            Setelah beberapa kali Tama menolak, akhirnya dia nerima proposal gue. Syukurlah. Dari wajahnya, mengisyaratkan kepuasan. Eh tapi, bukan Cuma karena proposal gue diterima, tapi karena insiden kecil dalam ruang rapat tadi yang bikin gue mesam mesem nggak jelas. Begini ceritanya.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Dilema (Episode 1)



Alhamdulillah, cerita sambung berjudul Dilema telah terbit. Cerita sambung kedua yang kutulis di dalam blog. Maaf deh, udah beberapa minggu ini aku vakum. Ini, aku baru menyelesaikan proyek kecil cerita sambung ini.
            Oke! Cerita sambung ini berjudul Dilema. Kenapa? Bukan karena ada lagunya ceribel. Tapi, karena peran utama dalam cerita ini, mengalami dilema yang begitu berat. Di antara orang-orang terkasihnya, ada sebuah pusaran hebat yang menyangkut cinta dan kasih sayang. Membuktikan lebih hebat mana, antara cinta atau kasih atau sayang. Ia bahkan sempat tak dipercaya oleh mereka. Ia ingin menyelamatkan kakaknya dari tipu muslihat licik sang tokoh antagonis. Alhasil? Dia malah dikucilkan oleh kakaknya.
            Ketika sang peran utama mendapatkan sepercik kebahagiaan, di samping orang yang dia sayang, dia kembali tak mendapat kepercayaan. Percaya karena apa? Tentang apa? Penasaran? Ikuti cerita sambung ini ya.
            Terima kasih :) Cerita ini akan terbit setiap malam minggu. Tunggu kedatangannya!
Dilema
Episode 1
Nama gue Refina. Terlahir sebagai anak bungsu dalam keluarga ini. Gue punya kakak. Namanya Revano Eka Amunggraha. Nama panggilannya Vano.

Senin, 22 Juli 2013

Aku, Kamu, dan Kita (4)



               Hari ini
             Kurang lebih 5 tahun aku mengenalnya. Kurang lebih 5 tahun aku memikirkannya. Setelah pertemuan terakhirku 2 tahun yang lalu, aku akan kembali bertemu dengannya, sekarang. Penasaran yang kubawa 2 tahun lalu, menguap sekarang. Rasa ragu, hilang. Tapi, apakah dia masih seperti yang dulu? Masih dengan senyum dan sapaan hangatnya? Apakah? Apalagi, Ibu setuju jika aku dengannya. Aku sudah tak sabar menemui sosoknya.

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini