Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2020

Fotografi dan Kamu

Kamu tahu, kenapa aku menyukai fotografi?
Karena aku bisa fokus pada satu-satunya objek di dunia yang ingin aku lihat selamanya.


Foto diambil dari instagram saythename_17

Kamu tahu, kenapa aku menyukai malam ini?
Karena ada rehearsal.
Salah satu kesempatan aku untuk menatap kamu lebih lama.
Aku bisa melihat kamu berlarian ke sana kemari, mempersiapkan banyak hal.

Kamis, 22 Agustus 2019

Paling Aku Favoritkan


Aku suka hari ketika kakiku memasuki gedung olahraga kota. Kamu boleh lupa atau bahkan tidak peduli, bahwa bagiku, tempat itu menjadi salah satu tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang aku dan kamu.

Aku suka ketika aku mencari tempat kosong sekaligus spot terbaik untuk memotret kamu yang sedang bertanding di lapangan. Aku tidak pernah berbaur dengan pendukung kedua tim, karena aku tidak mau telingaku jadi pengang hanya karena tabuhan genderang macam mau perang. Aku juga tidak perlu mengeluarkan jurus basa-basi seandainya bertemu dengan pendukung tim kamu yang rata-rata memang temanku atau temanmu.

            Aku hanya ingin bisa melihat kamu dengan leluasa. Bahkan aku tidak mau ada satupun di kepalaku yang bertanya perihal status hubungan kita itu apa.

Senin, 29 Juli 2019

Cari atau Lari

Iya, tidak ada alasan untuk tidak menjawab “Aku baik.” ketika kamu bertanya “Apa kabar?” padaku.

Aku tahu kamu tidak sekadar berbasa-basi demi membuka obrolan. Aku tahu kamu mungkin sempat berpikir kalau aku pernah porak-poranda selepas aku dan kamu meletakkan hubungan ini di tengah jalan. Aku tahu kamu peduli dan aku sebenarnya tidak bermaksud mengabaikan itu. Karena jujur, aku sudah merasa baik-baik saja, setidaknya sebelum bertemu kamu lagi hari ini, setelah sekian lama tak pernah bertatap muka.

Dulu, dulu sekali, aku pernah dengan tololnya memiliki hobi mencari dan menemukan kamu di antara lautan orang-orang. Rasanya menyenangkan saat berhasil mengunci pandangan pada postur tubuh tinggi kamu, mengamati kamu dari jauh, memotret kamu diam-diam, lalu senyum-senyum sendiri saat senyum kamu berhasil aku abadikan.

Foto diambil dari link ini

Rabu, 01 Mei 2019

"Sebentar lagi Ramadan."


Ta, apa kabar? Sebentar lagi Ramadan. Bagaimana harimu di sana? Menyenangkan, kan? Baik-baik saja, kan?
           
Maaf ya selama ini sudah membuat kamu marah, kesal, kecewa, dan segala hal yang aku sendiri tidak berani bertanya mengapa kamu seperti itu. Aku minta maaf karena sampai sekarang aku masih berharap semoga aku dan kamu bisa berteman seperti dulu. Mendengar tawa kamu, menatap tatapan galak kamu, menghadapi kecerewetan kamu, dan menanggapi cerita-cerita lucumu tentang teman-teman baikmu:  Ardhi dan Baya.

Photo by Avi Richards on Unsplash

Selasa, 11 Desember 2018

Sekadar Mengingatkan


Tidak ada yang menyenangkan dari memiliki kekasih yang jadi kakak tingkat. Apalagi ketika dia menjadi panitia ospek, dan tidak semua manusia tahu hubungan itu.
            Atau mungkin justru yang lebih berat adalah ketika dia berakting sama sekali tidak ada apa-apa. Seolah-olah kamu hanya mahasiswa baru sedangkan dia adalah senior yang harus kamu segani. Dia memang lewat di sampingmu hampir setiap saat ketika berbaris. Namun sejauh ini, bahkan mungkin sampai acara ini selesai, dia tidak pernah menyapamu atau menyebut namamu. Dia memang selalu melihatmu—bertemu pandang denganmu, tapi hanya sebatas itu. Dia tidak beranjak dari “kedudukan” dia, sekadar bertanya apakah kamu baik-baik saja setelah dipanggang lama-lama di bawah sinar matahari dalam posisi berdiri seperti tentara yang akan berperang.

Sabtu, 14 Juli 2018

Another Wor(l)ds


        Kamu datang seperti biasa. Memakai kemeja yang tidak kamu kancingkan, kaos warna biru yang senada dengan kemejamu, sepasang sepatu yang sepertinya usai kamu cuci, jam tangan hitam dengan merk yang sama meskipun sudah berganti-ganti model, juga aroma parfum yang spontan menyambut hidungku ketika kamu menginjakkan kaki di teras rumah.

            Penampilanmu memang seperti biasa.

            Tapi kamu terlambat lima menit.

            Sebagai manusia yang selalu tepat waktu, sekalipun hanya untuk mengunjungi rumahku, aku tahu bahwa di luar kebiasaanmu ini, ada sesuatu yang patut menderingkan alarm di kepalaku.

Senin, 03 Juli 2017

Supaya Kamu Mengerti

            Boleh, aku menghela napas panjang sekali lagi?
            
Atau mungkin aku tersenyum saja melihatmu yang sedang kegirangan seperti anak kecil?

Sudah berapa kali kamu membawa-bawa duniamu tepat di depanku, padahal aku sama sekali tidak kamu izinkan masuk ke sana? Kamu sering berceloteh sesuka hatimu, menceritakan apa saja yang ada dalam kepalamu, tapi kamu hanya memperlakukan aku sebagai pendengar. Iya, aku memang bisa menjadi pendengar yang baik. Tapi kamu perlu tahu bahwa aku ini manusia yang juga butuh didengar. Aku butuh bertemu kamu untuk melepas rindu, bukan untuk menyimpulkan betapa kamu menginginkan masa lalu yang sekarang masih mendominasi harimu.

Rabu, 28 Juni 2017

Teruntuk Seseorang yang Sedang Butuh Cermin

Mungkin memang seharusnya aku membelesak ke bumi saat ini juga. Daripada menjawab ribuan variasi pertanyaan yang intinya tetap sama: kenapa kalian putus?
            
Ini lo kenapa aku menghindari yang namanya saling jatuh hati dengan teman sendiri—teman satu komunitas, lebih tepatnya. Aku takut jika kebersamaan yang telah kami lalui selama ini—saat  menjadi anggota komunitas dari junior sampai memiliki junior—mendadak hancur karena masalah hati. Aku takut, kalau kami menjadi pemuja hati, dan akhirnya jadi bodoh, dan justru menyelesaikan kisah kami tanpa sesuai dengan ekspektasi.

Kamis, 13 April 2017

T(h)e-Man: Aku Tahu

Aku tahu aku tidak punya hak mengatur hidupmu. Mengurusi ini-itu, termasuk membangunkanmu supaya tidak melewatkan subuh. Aku tidak berhak marah-marah karena kamu hanya sebentar membaca pesan dariku, membalas sekadarnya, untuk kemudian lenyap yang tidak aku tahu kamu ke mana. Aku tahu bahwa kamu tidak punya kewajiban melapor kepadaku akan melakukan apa, ke mana, dan sedang bersama siapa dalam kurun waktu 24 jam.

Jumat, 12 Agustus 2016

Ritual Minggu Pagi



Mungkin esok, atau lusa, kamu akan mengerti, mengapa aku jatuh cinta padamu berkali-kali. Kamu tidak pernah menyadari betapa kamu adalah pemuda yang istimewa. Pembuat banyak tawa, pencipta rindu yang hebat. Kamu tidak tahu bahwa pernah pada suatu masa, aku menyebut namamu di balik setiap alasanku memilih atau memutuskan sesuatu. Aku sempat menjadikan kota yang sering kamu ceritakan berkali-kali itu, sebagai kota tujuanku nanti. Karena hanya melalui ceritamu, aku sudah jatuh hati dengan kota itu, lantas merasa bahwa kota itu memang tepat untukku.

Butuh waktu lama untuk menemukan alasan lain, bahwa kota itu bukan sekadar kota yang aku suka hanya karena ceritamu. Aku perlu berada di sana beberapa waktu, untuk mencintai kota itu tanpa alasan apapun. Bukan karena kamu.

Kamis, 05 Mei 2016

Maafkan Milea-mu, Dilan-ku



13.28.
             
Mataku membuka pelan-pelan, mengerjap-ngerjap. Menoleh pelan ke jendela. Hujan membungkus kota siang ini. Aku menguap lebar-lebar. Meregangkan tubuh. Sebelah tangan meraih ponsel, dan kudapati lima panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Dilanku.
             
Aku tersenyum masam. Aku berjanji akan menonton pertandingan basketnya pukul 14.15 siang ini. Sementara sekarang sudah hampir setengah dua, tapi aku belum apa-apa. Baru bangun dari tidur siang. Dia telah berjanji akan bermain paling bagus untukku. Aku tertawa kecil saat ia mengatakan itu. Tentu saja ia nanti bermain bagus atas nama tim—demi sekolahnya, sekolahku juga. Aku mendesah pelan, menoleh kembali ke jendela. Hujan memelan, berubah jadi gerimis kecil-kecil. Setelah meregangkan tubuh sekali, aku baru bangkit, menuju kamar mandi. Cuci muka, ganti baju, kemudian menuju gelanggang olahraga kota.

Sabtu, 30 April 2016

Kamu (Bukan) Dilan dan Aku (Bukan) Milea



Aku tahu, kamu bukan Dilan, dan diriku bukan Milea. Tapi, tak apa kan, jika kisah kita di masa abu-abu putih ini seperti mereka? Kamu memang bukan anak geng motor seperti Dilan, dan aku juga tidak cantik seperti Milea. Tapi, jika aku dan kamu memberi sedikit warna di masa abu-abu putih ini, siapa tahu kisah kita akan abadi seperti mereka? Ya, meskipun aku tahu bahwa ujungnya, Dilan dan Milea tidak bersama. Aku juga sangat tahu, kamu bukan tipe orang yang ingin melakukan pekerjaan sia-sia—untuk apa berjuang sedemikian rupa jika pada akhirnya tidak akan bersama?

Minggu, 10 April 2016

Setelah Kembali ke Peredaran


"Kamu darimana saja, Arez? Sudah lama tidak datang ke sini. Kamu baik-baik, kan? Tidak sakit?" Google+ memberondongku dengan pertanyaan, padahal kakiku baru menginjak beranda. Aku tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja," jawabku.

Google+ masih menatapku cemas. Seperti tak yakin dengan jawabanku, Google+ menempelkan tangannya di dahiku. Aku mengernyit.

"Oh, syukurlah. Aku kira kamu demam," kata Google+ sambil menurunkan tangannya dari dahiku. Sesaat kemudian, beliau tersenyum lebar. "Mari, mari masuk! Aku punya suguhan baru untukmu!" ajaknya seraya mendorongku masuk.

Benar saja. Saat aku memasuki rumahnya, aku terpukau. Jauh, jauh berbeda dari terakhir aku menginjakkan kaki di sini. Meskipun selera Google+ masih sama, namun, benda-benda yang dipilih untuk mengisi ruangan, membuat rumah ini selama sekian detik, tidak aku kenali. Mungkin, karena pernak-pernik yang terpasang adalah sesuatu yang lebih modern? Lebih baru?

Minggu, 31 Januari 2016

Intuisi



Akhirnya dia benar-benar datang. Tersenyum lebar sambil menenteng tas. Wajahnya terlihat segar habis mandi. Dan benar saja. Aroma wangi yang aku tahu bukan produk parfum, menyambut hidungku saat dia mendekat. Dia masih seperti dulu. Ramah dan murah senyum.
             
Kemarin dia bilang akan pulang. Dan jika sempat, dia akan ke sini untuk membantuku belajar. Maka, seperti yang dulu-dulu. Aku akan menyiapkan ribuan pertanyaan, agar dia berbicara banyak-banyak. Juga, agar dia lebih lama duduk di sampingku. Berpura-pura tidak tahu, maka, ia akan menjelaskan banyak hal. Membicarakan sesuatu yang kutanyakan, dengan selingan canda. Diiringi gestur tangannya demi mempermudahku untuk mengerti. Dan aku selalu menyukai itu. Terkadang, aku bertanya lagi, lalu dia menggaruk kepala sebentar—memikirkan cara lain untuk menerangkan.

Rabu, 27 Januari 2016

Sebaiknya, Kamu Tetap (Tak) Peduli



Harusnya ini jadi sore yang membahagiakan. Aku sudah memperhitungkannya semenjak kita masih berbagi meja. Ketika kamu disuruh memilih nomor punggung untuk pertandingan sepak bola antar kelas, sore ini. Aku segera menghitung kalender, kurang berapa minggu setelah hari itu. Apalagi, kamu menyebut nomor punggung pemain bola favoritku. Kamu memilih nomor itu, membuatku kian bersemangat menunggu sore ini. Aku harus berfoto denganmu yang memakai nomor itu. Harus. Sebagai teman sebangku, tentu saja.
             
Tapi sepertinya hal itu berantakan. Beberapa hari mendekati pertandingan, kamu justru menjauh. Karena pengakuan tempo hari. Ketika aku baru tahu ternyata kamu tahu. Tentang perasaan itu. Tentang sesuatu yang aku sendiri masih ragu. Saat kamu berkata ‘Sebaiknya, jangan’ lalu mengambil tas dan memindahnya. Mengganti teman sebangku sekenanya. Egois. Tak peduli. Tak lagi berbagi meja.
            

Selasa, 22 Desember 2015

Abnormal



Sahabatku baru saja bercerita tiga menit tanpa jeda. Tentang salah seorang pemuda yang buatnya melayang-layang tak berdaya. Pemuda yang tampan dan baik hati dari esktrakurikuler voli. Satu-satunya pemuda yang memperhatikannya. Tidak seperti pemuda lain yang memilih tak acuh padanya. Sesekali menyapa, atau tersenyum padanya. Sering membagi-bagikan camilan buatan ibunya kepada manusia seluruh ekstra. Kata sahabatku, camilan berbahan dasar tepung terigu, telur, mentega, dan susu itu, enak bukan main.

Sayangnya, akhir-akhir ini, pemuda baik hati itu semakin baik. Dan itu membuat sahabatku terbang makin tinggi. Kuperingatkan agar tak jauh-jauh ke langit, tapi sahabatku berkeras. Pemuda baik hati itu bukan sekadar baik. Mungkin saja telah jatuh hati padanya—sama seperti yang dirasakan sahabatku. Aku pun hanya tersenyum menanggapi ocehan sahabatku. Pilih tak berkomentar.

Aku menanggapi ceritanya dengan tertawa kecil, lalu menanyakan kelanjutan kisah seru mereka. Sahabatku menjawab dengan mengisahkan kembali cerita yang dulu, masih dengan semangat yang sama, nada menggebu-gebu yang sama, hanya kata-katanya yang sedikit berubah. Aku kembali tersenyum. Pemuda itu benar-benar terlihat baik di mata sahabatku. Hampir tanpa cela. Menyaingi malaikat.

Jumat, 11 Desember 2015

Sebaiknya, Kamu Tetap Tak Peduli



Bukankah selama ini baik-baik saja?
             
Duduk di sampingku. Menulis satu meja denganku. Memandang papan tulis dari sudut yang sama. Tertiup angin sepoi dari jendela yang sama. Terkadang tangan kita bersaling-silang karena mengambil sesuatu yang letaknya di sebelahku atau sebelahmu. Sering sekali kamu meminjam entah bolpoin, entah pensil, hanya untuk berpura-pura mencatat penjelasan guru. Lebih sering lagi aku yang mengamatimu diam-diam ketika kamu meletakkan kepala di meja sambil mencoret-coret tidak jelas di buku catatanmu. Dan ketika bel istirahat berdering, sontak kepalamu terangkat, tubuhmu langsung tegak. Matamu berbinar-binar.

Jumat, 27 November 2015

Di Ujung Persimpangan



            Hai, Tuan, bagaimana kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja. Tersenyum ramah seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa terhadapmu sebelumnya. Ah, ya, tentu saja kamu dapat bertingkah tak terjadi apa-apa. Karena guncangan paling hebat terjadi padaku, bukan kamu. Kamu tentu tak menangis berhari-hari dan menyesal berbulan-bulan perihal kisah kita. Aku tahu, bukan maksudmu untuk tidak peduli. Aku juga tahu, bukan karena kamu dapat dengan mudah berpindah ke lain hati.
             
Ah, maafkan. Baru pembukaan dari tulisan ini, aku seolah menyudutkanmu. Bukan, bukan. Bukan tentang kamu yang sukses move on. Bukan pula tentang kemalanganku yang gagal move on.
             
Asal kamu tahu, ternyata banyak yang menanyakan kelanjutan kisah kita. Sungguh, aku tak menyangka ternyata ada yang mengikuti perjalanan kita. Yah, jika bisa disebut perjalanan, berarti jalan yang kita lalui bercabang, atau memang buntu, dan susah seharusnya kita berhenti, kembali, atau meneruskan perjalanan. Sayangnya, kita punya dua pendapat berbeda. Memang sama-sama ingin berjalan, tapi kamu ingin melangkah ke kiri, sedangkan aku memilih ke kanan. Kita sama-sama keras kepala, menguatkan ego.

Sampai kita memutuskan meletakkan hubungan kita di persimpangan jalan, lalu berjalan menuju jalan yang aku dan kamu ingini. Aku ke kanan, dan kamu ke kiri. Dan entah kamu tahu apa tidak, di tengah perjalanan, aku menyesal mengapa tak meredam keinginanku. Karena melalui hari yang biasanya ada yang mendampingi, tapi sekarang harus sendiri, adalah sesuatu hal yang baru sekarang aku sadari, terasa pincang dan sepi. Biasanya jika aku merasa lelah, ada kamu yang memberi sandaran saat aku beristirahat. Dan aku harap kamu masih ingat ketika kamu putus asa, ada aku yang memberi semangat. Bukankah waktu itu kita saling melengkapi? Tapi mengapa semudah itu kita memutuskan untuk sendiri-sendiri?

Sabtu, 31 Oktober 2015

Sederhana, kan?



            Sudah sejak tadi pagi aku tak sabar ingin segera malam. Karena kemarin, abangku bilang, dia akan pulang, dan membawa banyak buah tangan, juga sejuta cerita. Abangku yang menempuh pendidikan kemiliteran akan pulang. Dan aku ingin mempercepat hari agar dia lekas datang. Aku ingin segera melepas rindu yang berusaha kusimpan dengan rapi namun tetap saja menumpuk di sudut ruang. Abangku juga bilang, jika perjalanan lancar, dia sampai rumah pukul delapan malam. Ah, tak sabar aku menunggunya di beranda dan membukakan pagar untuknya. Aku juga tak sabar ingin menertawakan kepalanya yang dicukur habis ala tentara.
             
Pagi ini, aku berangkat sekolah dengan semangat 45. Ingin kuhabisi hari, agar siang segera berganti. Jam pelajaran pertama adalah olahraga.  Hanya diisi pemanasan, kemudian olahraga bebas, karena Pak Guru sedang ada kepentingan, dan hanya dapat mengajar sampai pukul delapan. Ah, pukul delapan? Dua belas jam lagi kakakku akan pulang. Aku semakin tak sabar.
            
 Usai olahraga, satu jam pelajaran bahasa Arab adalah kosong. Gurunya ada kepentingan, dan tak diberi tugas. Semakin membuatku ingin pulang karena di sekolah tak ada kesibukan. Barulah di jam pelajaran berikutnya adalah bahasa Inggris. Yang lagi-lagi, sang guru ada kepentingan, dan kami  hanya diberi tugas, yang langsung kuselesaikan secara kilat. Dan pelajaran berikutnya adalah Bimbingan Konseling, yang hanya membahas naskah drama yang telah kubuat tadi malam. Sama sekali tak ada kesibukan yang berarti. Karena ada satu hal yang lebih penting hari ini: menyambut abang pulang.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Hanya Sesaat



Ujian telah selesai. Aku dan kamu juga telah selesai. Tak ada lagi pesan darurat dalam kotak masukku. Tak ada lagi kiriman gambar, dan kiriman link soal latihan. Tak ada lagi denting tanda pesan masuk. Tak ada lagi kamu, yang selama empat hari mengisi malam-malamku, mengisi sela-sela belajarku. Terima kasih kamu, mengingatkanku beberapa pelajaran yang sudah kulupa. Berkatmu, buku-buku yang sudah kutumpuk rapi, harus kubuka lagi demi menjawab pertanyaanmu. Demi kamu, Tuan, yang pernah kuharap sekadar ber-Hai padaku.

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini