Tampilkan postingan dengan label reality. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reality. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2020

Apakah Kamu Pernah?



Apakah kamu pernah bertemu dengan seseorang yang bisa membuatmu berbicara lebih banyak?
Yang membuatmu merasa didengar karena dia mampu menanggapi celotehmu sewajarnya
Yang bisa tertawa bersamamu saat ada sesuatu yang menurutmu lucu


Atau,


Pernahkah kamu bertemu seseorang yang mengajakmu melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain?
Yang membuatmu takjub ternyata dunia bisa lebih indah jika disaksikan dari luar zona nyaman
Yang membuatmu memahami satu hal dari berbagai sisi


Gambar diambil dari Pinterest

Jumat, 24 Januari 2020

Second Account


Hari ini, aku membayangkan,
Bagaimana kalau suatu hari nanti kamu iseng mengetik sebuah nama di kolom twitter, kemudian menemukan aku?
Bukan, bukan aku
Tapi akun milikku.

Foto diambil dari Pinterest

Minggu, 29 Desember 2019

Selamat Tinggal


Mari lakukan upacara perpisahan ini secara natural
Tidak perlu protokol yang berbelit-belit macam birokrasi
Tidak harus ada komandannya
Toh pesertanya cuma kita

Foto diambil dari Pinterest

Rabu, 20 November 2019

Temu Untuk Bertamu

Kamu memang tidak lagi seistimewa itu.

Aku tidak lagi merasakan degup jantung yang menggebu; bingung mau pakai baju apa; ribet make up seperti apa supaya terlihat tidak pucat tapi tidak menor; apalagi menyemprotkan parfum banyak-banyak sampai kepikiran untuk mandi parfum saja.

You’re not special anymore.

Kini aku bisa menahan jemari tanganku untuk tidak menulis ulang percakapan kita di twitter. Tidak berkeinginan meng-upload roomchat kita di fitur cerita sosial media yang padahal lebih “hangat” daripada sebelum-sebelumnya. Aku bahkan tidak mengeluarkan ponsel ketika aku dan kamu berbincang tentang banyak hal.

Kocak ya.

Ketika aku sudah tidak lagi menganggapmu spesial, kamu justru melakukan segala hal yang tadinya hanya aku impikan. Kamu menjemputku di rumah; mengantarku ke manapun aku mau; menemaniku pusing-pusing karena tugas; meladeni kebawelanku; dan tetap mengembalikanku pulang ke rumah dengan selamat.

            Kamu juga bercerita lebih banyak. Entah mungkin karena aku sudah bisa menimpali dengan lebih komunikatif atau kamu sedang butuh teman bicara. Yang jelas, aku tidak perlu pura-pura tertarik dengan apa yang kamu omongkan sehingga ketidak-antusiasanku bisa kamu tanggapi dengan mengalihkan topik obrolan.

            Lucu saja.

            Saat aku sudah merasa baik-baik saja, tiba-tiba kamu minta bertemu. Tapi harus tahu sopan santun ya, karena sekarang kamu sekadar tamu.

Photo by Max Böhme on Unsplash


Minggu, 03 November 2019

Pergilah, Tidak Apa-Apa


Disarankan mendengarkan lagu ini --> Background Music Extraordinary You Episode 19 - 20  <-- untuk baca tulisan ini :))


Photo by Anastasia Vityukova on Unsplash

Ya sudah, pergi saja, tidak apa-apa. Dari dulu pun aku sudah mempersiapkan perpisahan, sebelum harus merasa sakit karena kehilangan. Aku bahkan telah menulis ucapan terima kasih karena kamu membuatku banyak belajar dalam memahami diri sendiri dan tentang orang lain.

Mungkin memang saat ini adalah waktunya kamu buat pergi. Aku tidak punya hak untuk menahanmu lebih lama di sini. Bersama kamu sampai sejauh ini pun kejadian di luar dugaan yang patut aku syukuri.

Rabu, 10 April 2019

Rabu, 13 Maret 2019

Tenang, Aku Bisa Menunggu


Demi bahagiamu, tidak apa-apa untukku ditunda dulu
Aku bisa menunggu
Selama kamu berjuang untuk masa depanmu,
Maka aku tidak akan menuntut ini-itu

Photo by Anthony Tran on Unsplash

Kamis, 31 Januari 2019

Tulisan Ini Untuk Kamu


Maaf, Tuan, maaf
Maaf sekali lagi jika aku mempermasalahkan jarak
Karena pada kenyataannya, kita terpisah oleh kesempatan bertemu
Kita tidak bisa saling tatap muka, dan membicarakan hal yang pernah mengungkung isi kepala

Aku tahu, ini soal lama
Jauh sebelum tulisan ini dibuat dan disebarluaskan dan mungkin kebetulan kamu tengah membacanya sekarang
Tuan, maafkan
Sekalipun aku sekarang diam dan tidak membahas hal itu lagi, bukan berarti aku lupa dan menganggap segalanya baik-baik saja
Meskipun kini aku dan kamu sudah punya banyak hal lain yang dibicarakan, bukan berarti masalah ini selesai dan kita tidak perlu berbincang secara khusus mengenai perkara ini

Photo by rawpixel on Unsplash

Senin, 07 Januari 2019

Ternyata Masih Dia


Boleh aku bercerita?
Tentang laki-laki yang tidak pernah berhenti membuatku terkesan
Dari leluconnya
Tingkah ajaibnya
Pemikiran rumitnya
Cerita-ceritanya

Photo by Tom Sodoge on Unsplash

Selasa, 14 Agustus 2018

Sesaat Lagi


            Kota kelahiran saya sedang mendung.
            
Ratusan bahkan ribuan memori seketika menyergap, menaklukkan saya agar tunduk dan patuh. Delapan belas tahun saya hidup, belum pernah saya mengilas balik secara khusus selama berada di kota ini. Kota tempat saya melihat dunia untuk pertama kali; sekaligus menyaksikan saya tumbuh dan berkembang hingga detik ini.

Photo by Scott Webb on Unsplash
 Sebentar lagi, tinggal menghitung hari, saya tidak di sini.

Rabu, 02 Mei 2018

Bagaimana Membicarakan Cita-cita dengan Orang Tua?


“Kenapa kamu ingin ke sana? Coba universitas yang lain dulu,”
“Biayanya mahal. Bapak ini sebentar lagi pensiun lo,”
“Masih lama pula. Mungkin nanti keinginanmu bisa berubah,”
Dan detik itu aku merasa bahwa cita-citaku mungkin tidak seperti yang aku rancang di kepalaku.

Sabtu, 07 April 2018

Apa yang Ingin Aku Tekuni?



Halo!

Pemilik akun ini sedang bertekad untuk membuat tulisan secara rutin—kemungkinan besar akan dikirim tiap minggu. Meskipun serangkaian ujian baru saja hampir selesai, setidaknya kepalaku sudah sedikit longgar untuk diajak berpikir dan berdiskusi.

Ah, iya, kalau Kawan-kawan ingin berdiskusi, boleh banget. Aku bisa dijumpai di LINE dengan id: angelarezka; twitter dengan username: @AngelaRezka; dan instagram dengan username: @angela_rezka. Melalui email jela.andua@gmail.com pun boleh.

Pada kesempatan kali ini, ada beberapa hal yang ingin aku bagi, kepada Kawan-kawan—dan sekali lagi—khususnya kepada adik-adik yang masih punya kesempatan untuk memilih di mana akan menghabiskan masa putih abu-abu.

Senin, 19 Maret 2018

Daftar Kesalahan



Halo, adik-adik SMP yang akan menuju SMA,
            
 Berikut ini adalah tulisan mengenai kesalahanku sebelum masuk SMA, yang mungkin bisa kalian jadikan pencerahan daripada kalian menyesal tiga tahun kemudian, seperti yang aku alami sekarang.

Buat adik-adik yang masih bingung nanti di SMA mau memilih jurusan apa, mungkin penjelasan tentang kesalahanku ini bisa membantu, setidaknya membuatmu berpikir ulang sehingga bisa lebih percaya diri dalam memilih jurusan karena tiga tahun di masa putih abu-abu adalah jembatan yang harus adik-adik lewati untuk masa depan yang telah menanti.

Kamis, 08 Februari 2018

Demi Eksistensi

Hai.
            
Aku kembali ke peredaran.

            Anggap saja tulisan ini sebagai salam pembuka setelah sekian lama tidak bersua, sekaligus ucapan selamat datang karena kemungkinan besar, tulisanku tidak lagi seperti yang kamu harapkan. Maaf, bukannya aku kehilangan selera untuk memenuhi apa yang kamu suka, tapi aku merasa, kalau setiap saat memenuhi keinginan seseorang, lama-lama aku sendiri yang akan mati tanpa kebahagiaan yang berarti. Karena jujur, setelah aku menghilang dari permukaan, aku menemukan beberapa hal dalam hidupku yang perlu aku atur ulang: termasuk tulisan dalam blogku sekarang.

            Pertama: aku masih suka menulis, meskipun tidak setiap hari aku merasa perlu menuangkan uneg-uneg dan memerlakukan laptop seperti diary.

Jumat, 21 Juli 2017

Bukan Butuh Cermin, Tapi Layangan

Aku punya masalah apa sama kamu?

            
Punya masalah apa sama aku?

            Sebentar. Boleh diulangi sekali lagi, Tuan? Jangan-jangan aku salah dengar.

            Eh, kamu ini sedang bergurau apa bagaimana?

            Ada masalah apa sama aku?     

            Tunggu sebentar. Boleh aku tertawa lebih dulu?

            Astaga, bagaimana bisa kamu bertanya selugas itu? Ternyata orang se-sensitif kamu tidak tahu apa yang salah dari diri kamu? Tuan tolong, seandainya kamu melucu, katakan sekarang. Aku pasti tertawa. Tidak perlu diikuti mimik muka sok polosmu itu. Kamu tahu, itu membuatku makin muak—makin tidak ingin bertemu kamu.

Ada ya, orang yang berniat ingin tahu apa kesalahannya, justru bertanya di tengah keramaian?—padahal untuk bicara saja harus teriak-teriak dan perlu diulang.

            Apa salah kamu sama aku?

Senin, 03 Juli 2017

Supaya Kamu Mengerti

            Boleh, aku menghela napas panjang sekali lagi?
            
Atau mungkin aku tersenyum saja melihatmu yang sedang kegirangan seperti anak kecil?

Sudah berapa kali kamu membawa-bawa duniamu tepat di depanku, padahal aku sama sekali tidak kamu izinkan masuk ke sana? Kamu sering berceloteh sesuka hatimu, menceritakan apa saja yang ada dalam kepalamu, tapi kamu hanya memperlakukan aku sebagai pendengar. Iya, aku memang bisa menjadi pendengar yang baik. Tapi kamu perlu tahu bahwa aku ini manusia yang juga butuh didengar. Aku butuh bertemu kamu untuk melepas rindu, bukan untuk menyimpulkan betapa kamu menginginkan masa lalu yang sekarang masih mendominasi harimu.

Kamis, 13 April 2017

T(h)e-Man: Aku Tahu

Aku tahu aku tidak punya hak mengatur hidupmu. Mengurusi ini-itu, termasuk membangunkanmu supaya tidak melewatkan subuh. Aku tidak berhak marah-marah karena kamu hanya sebentar membaca pesan dariku, membalas sekadarnya, untuk kemudian lenyap yang tidak aku tahu kamu ke mana. Aku tahu bahwa kamu tidak punya kewajiban melapor kepadaku akan melakukan apa, ke mana, dan sedang bersama siapa dalam kurun waktu 24 jam.

Senin, 27 Maret 2017

Aku Bicara Soal Rindu

Aku rindu.

            Mungkin bagimu sepele. Tapi bagiku, rindu masuk ke dalam salah satu hal paling menyebalkan di dunia. Bisa menimbulkan uring-uringan tidak jelas, menghapus rasa lapar, serta mampu melenyapkan senyum yang terpasang di wajah sepanjang hari. Dan rindu akan semakin menyiksa ketika tidak ada satu orang pun yang berusaha memahami bahwa yang dibutuhkan si perindu hanyalah pertemuan. Setidaknya ada perasaan simpati atau aku akan dengan senang hati menerima saran dia demi mengusahakan pertemuan, bukan cuma kata: sabar ya, sabar.

            Hei, rindu tidak bisa lenyap hanya karena baru saja mendengar kata sabar ya. Jadi, tolong, jika tidak ada satu pun yang paham betapa beratnya merindukan seseorang, tidak perlu sok-sokan simpati, mengelus-elus punggung, dan berceramah soal sabar. Aku sudah kenyang. Apalagi janji-janji soal seseorang yang ingin aku temui setiap detik, akan pulang beberapa hari lagi. Seseorang yang dua bulan lalu bilang akan pulang dan memberiku banyak oleh-oleh, padahal aku hanya ingin bertemu dengan dia. Mungkin jika waktu dapat diputar, dua bulan lalu aku tidak akan berteriak kegirangan mendengar dia yang akan memberiku banyak buah tangan. Aku pasti akan bilang bahwa aku hanya rindu—ingin bertemu dia—bukan meminta oleh-oleh satu truk sementara dia masih ada di sana, jauh di seberang samudra.

            Aku rindu.

            Tapi tidak ada satu orang pun yang paham betapa aku iri kepada diriku sendiri yang berada dalam foto-fotoku yang terpajang di meja. Diriku sendiri yang bisa memeluk orang yang aku rindukan sekarang, selamanya. Beku dalam fotografi. Sementara aku di sini, pada detik ini, cuma bisa bengong, karena orang yang sedang aku peluk dalam foto itu entah sedang apa di seberang sana. Aku cuma bisa rindu, tapi tidak ada satu orang pun yang tahu betapa aku membenci perasaan ini.

            Aku hanya ingin bertemu.

            Hanya itu.

            Dan hanya kepada samudra aku merasa sedikit lebih dekat kepada dia yang aku rindukan. Samudra yang tidak pernah bertanya mengapa aku uring-uringan sepanjang hari dua bulan terakhir. Samudra yang selalu tahu alasan kenapa senyumku jarang muncul dua bulan terakhir. Samudra yang tidak pernah mengatakan, “Sabar,” juga tidak pernah mengumbar janji bahwa dia akan pulang sebentar lagi. Hanya samudra yang mampu berbicara soal badai, ombak, angin, persis seperti dongeng-dongeng pengantar tidur dari orang yang aku rindukan. Hanya kepada samudra, aku merasa suatu hal menyebalkan bernama rindu ini, dapat teratasi.


            Sebelum aku bertemu seseorang, yang membuatku berpikir dua kali, apakah rindu yang melanda kepalaku ini lebih penting daripada toleransi dan keutuhan NKRI. Seseorang yang bernama ..... klik di sini

Minggu, 18 Desember 2016

Sedang Dalam Proses Melupakan

 “Sabtu nanti, nonton yuk!” ujarnya di telepon.
           
“Ha? Nonton apa?” tanyaku dengan otak yang belum tersambung dengan nyawa—akibat dari bangun secara mendadak, gara-gara luput tidak mengatur ponsel dengan mode pesawat—dan entah kenapa orang itu tiba-tiba telepon jam setengah dua belas malam begini.
            
“Ada pemutaran ulang film bagus. Tiketnya gratis!” dia menjawab antusias. Aku mengerutkan kening.
           
“Gratis?” aku bertanya, meragukan indera pendengaranku dalam keadaan nyawa baru terisi separuh seperti ini.
            
“Iya, gratis. Mau?”

Jumat, 07 Oktober 2016

Perasaan dan Kamu

Ternyata perasaan itu masih bersemayam. Ternyata selama ini ia hanya duduk tenang, menunggu sesuatu untuk menyulutnya, dan ia akan bertingkah. Menggelora seenak jidat. Membuat nafsu makan menurun, tidak ada semangat, menyurutkan senyum dan tawa, serta mengusir sebagian besar selera untuk bercanda. Dia benar-benar jahat. Atau setidaknya, malam ini aku merasa dia begitu jahat. Tiba-tiba bangkit dari ketenangannya selama ini, dan mengobrak-abrik tatanan hatiku yang sempat mati-matian aku rapikan sedemikian rupa.

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini