Tampilkan postingan dengan label dilanmilea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dilanmilea. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2016

Maafkan Milea-mu, Dilan-ku



13.28.
             
Mataku membuka pelan-pelan, mengerjap-ngerjap. Menoleh pelan ke jendela. Hujan membungkus kota siang ini. Aku menguap lebar-lebar. Meregangkan tubuh. Sebelah tangan meraih ponsel, dan kudapati lima panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Dilanku.
             
Aku tersenyum masam. Aku berjanji akan menonton pertandingan basketnya pukul 14.15 siang ini. Sementara sekarang sudah hampir setengah dua, tapi aku belum apa-apa. Baru bangun dari tidur siang. Dia telah berjanji akan bermain paling bagus untukku. Aku tertawa kecil saat ia mengatakan itu. Tentu saja ia nanti bermain bagus atas nama tim—demi sekolahnya, sekolahku juga. Aku mendesah pelan, menoleh kembali ke jendela. Hujan memelan, berubah jadi gerimis kecil-kecil. Setelah meregangkan tubuh sekali, aku baru bangkit, menuju kamar mandi. Cuci muka, ganti baju, kemudian menuju gelanggang olahraga kota.

Sabtu, 30 April 2016

Kamu (Bukan) Dilan dan Aku (Bukan) Milea



Aku tahu, kamu bukan Dilan, dan diriku bukan Milea. Tapi, tak apa kan, jika kisah kita di masa abu-abu putih ini seperti mereka? Kamu memang bukan anak geng motor seperti Dilan, dan aku juga tidak cantik seperti Milea. Tapi, jika aku dan kamu memberi sedikit warna di masa abu-abu putih ini, siapa tahu kisah kita akan abadi seperti mereka? Ya, meskipun aku tahu bahwa ujungnya, Dilan dan Milea tidak bersama. Aku juga sangat tahu, kamu bukan tipe orang yang ingin melakukan pekerjaan sia-sia—untuk apa berjuang sedemikian rupa jika pada akhirnya tidak akan bersama?

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini