Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2020

Apakah Kamu Pernah?



Apakah kamu pernah bertemu dengan seseorang yang bisa membuatmu berbicara lebih banyak?
Yang membuatmu merasa didengar karena dia mampu menanggapi celotehmu sewajarnya
Yang bisa tertawa bersamamu saat ada sesuatu yang menurutmu lucu


Atau,


Pernahkah kamu bertemu seseorang yang mengajakmu melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain?
Yang membuatmu takjub ternyata dunia bisa lebih indah jika disaksikan dari luar zona nyaman
Yang membuatmu memahami satu hal dari berbagai sisi


Gambar diambil dari Pinterest

Minggu, 03 November 2019

Pergilah, Tidak Apa-Apa


Disarankan mendengarkan lagu ini --> Background Music Extraordinary You Episode 19 - 20  <-- untuk baca tulisan ini :))


Photo by Anastasia Vityukova on Unsplash

Ya sudah, pergi saja, tidak apa-apa. Dari dulu pun aku sudah mempersiapkan perpisahan, sebelum harus merasa sakit karena kehilangan. Aku bahkan telah menulis ucapan terima kasih karena kamu membuatku banyak belajar dalam memahami diri sendiri dan tentang orang lain.

Mungkin memang saat ini adalah waktunya kamu buat pergi. Aku tidak punya hak untuk menahanmu lebih lama di sini. Bersama kamu sampai sejauh ini pun kejadian di luar dugaan yang patut aku syukuri.

Selasa, 04 Juni 2019

Sebentar Lagi Lebaran


Hei, sebentar lagi lebaran, atau bahkan kamu membaca tulisan ini ketika bulan Ramadan tahun ini sudah berakhir. Di sini aku hanya ingin minta maaf atas segala kesalahan yang muncul dari alam bawah sadarku, yang mungkin sempat membuatmu terganggu.
          
Foto diambil dari unsplash.com

Selasa, 04 Desember 2018

Dia Tidak Datang


Dia tidak datang
Sekalipun kamu mengirim banyak pesan
Bilang kalau kamu sudah sampai, dan menunggu di tempat parkir

Tapi dia tidak akan datang, Dear
Hujan kini menderas
Kamu kelimpungan berlari ke arah gedung pertemuan

Photo by Erik Witsoe on Unsplash

Rabu, 02 Mei 2018

Bagaimana Membicarakan Cita-cita dengan Orang Tua?


“Kenapa kamu ingin ke sana? Coba universitas yang lain dulu,”
“Biayanya mahal. Bapak ini sebentar lagi pensiun lo,”
“Masih lama pula. Mungkin nanti keinginanmu bisa berubah,”
Dan detik itu aku merasa bahwa cita-citaku mungkin tidak seperti yang aku rancang di kepalaku.

Sabtu, 07 April 2018

Apa yang Ingin Aku Tekuni?



Halo!

Pemilik akun ini sedang bertekad untuk membuat tulisan secara rutin—kemungkinan besar akan dikirim tiap minggu. Meskipun serangkaian ujian baru saja hampir selesai, setidaknya kepalaku sudah sedikit longgar untuk diajak berpikir dan berdiskusi.

Ah, iya, kalau Kawan-kawan ingin berdiskusi, boleh banget. Aku bisa dijumpai di LINE dengan id: angelarezka; twitter dengan username: @AngelaRezka; dan instagram dengan username: @angela_rezka. Melalui email jela.andua@gmail.com pun boleh.

Pada kesempatan kali ini, ada beberapa hal yang ingin aku bagi, kepada Kawan-kawan—dan sekali lagi—khususnya kepada adik-adik yang masih punya kesempatan untuk memilih di mana akan menghabiskan masa putih abu-abu.

Senin, 19 Maret 2018

Daftar Kesalahan



Halo, adik-adik SMP yang akan menuju SMA,
            
 Berikut ini adalah tulisan mengenai kesalahanku sebelum masuk SMA, yang mungkin bisa kalian jadikan pencerahan daripada kalian menyesal tiga tahun kemudian, seperti yang aku alami sekarang.

Buat adik-adik yang masih bingung nanti di SMA mau memilih jurusan apa, mungkin penjelasan tentang kesalahanku ini bisa membantu, setidaknya membuatmu berpikir ulang sehingga bisa lebih percaya diri dalam memilih jurusan karena tiga tahun di masa putih abu-abu adalah jembatan yang harus adik-adik lewati untuk masa depan yang telah menanti.

Kamis, 08 Februari 2018

Demi Eksistensi

Hai.
            
Aku kembali ke peredaran.

            Anggap saja tulisan ini sebagai salam pembuka setelah sekian lama tidak bersua, sekaligus ucapan selamat datang karena kemungkinan besar, tulisanku tidak lagi seperti yang kamu harapkan. Maaf, bukannya aku kehilangan selera untuk memenuhi apa yang kamu suka, tapi aku merasa, kalau setiap saat memenuhi keinginan seseorang, lama-lama aku sendiri yang akan mati tanpa kebahagiaan yang berarti. Karena jujur, setelah aku menghilang dari permukaan, aku menemukan beberapa hal dalam hidupku yang perlu aku atur ulang: termasuk tulisan dalam blogku sekarang.

            Pertama: aku masih suka menulis, meskipun tidak setiap hari aku merasa perlu menuangkan uneg-uneg dan memerlakukan laptop seperti diary.

Senin, 27 Maret 2017

Aku Bicara Soal Rindu

Aku rindu.

            Mungkin bagimu sepele. Tapi bagiku, rindu masuk ke dalam salah satu hal paling menyebalkan di dunia. Bisa menimbulkan uring-uringan tidak jelas, menghapus rasa lapar, serta mampu melenyapkan senyum yang terpasang di wajah sepanjang hari. Dan rindu akan semakin menyiksa ketika tidak ada satu orang pun yang berusaha memahami bahwa yang dibutuhkan si perindu hanyalah pertemuan. Setidaknya ada perasaan simpati atau aku akan dengan senang hati menerima saran dia demi mengusahakan pertemuan, bukan cuma kata: sabar ya, sabar.

            Hei, rindu tidak bisa lenyap hanya karena baru saja mendengar kata sabar ya. Jadi, tolong, jika tidak ada satu pun yang paham betapa beratnya merindukan seseorang, tidak perlu sok-sokan simpati, mengelus-elus punggung, dan berceramah soal sabar. Aku sudah kenyang. Apalagi janji-janji soal seseorang yang ingin aku temui setiap detik, akan pulang beberapa hari lagi. Seseorang yang dua bulan lalu bilang akan pulang dan memberiku banyak oleh-oleh, padahal aku hanya ingin bertemu dengan dia. Mungkin jika waktu dapat diputar, dua bulan lalu aku tidak akan berteriak kegirangan mendengar dia yang akan memberiku banyak buah tangan. Aku pasti akan bilang bahwa aku hanya rindu—ingin bertemu dia—bukan meminta oleh-oleh satu truk sementara dia masih ada di sana, jauh di seberang samudra.

            Aku rindu.

            Tapi tidak ada satu orang pun yang paham betapa aku iri kepada diriku sendiri yang berada dalam foto-fotoku yang terpajang di meja. Diriku sendiri yang bisa memeluk orang yang aku rindukan sekarang, selamanya. Beku dalam fotografi. Sementara aku di sini, pada detik ini, cuma bisa bengong, karena orang yang sedang aku peluk dalam foto itu entah sedang apa di seberang sana. Aku cuma bisa rindu, tapi tidak ada satu orang pun yang tahu betapa aku membenci perasaan ini.

            Aku hanya ingin bertemu.

            Hanya itu.

            Dan hanya kepada samudra aku merasa sedikit lebih dekat kepada dia yang aku rindukan. Samudra yang tidak pernah bertanya mengapa aku uring-uringan sepanjang hari dua bulan terakhir. Samudra yang selalu tahu alasan kenapa senyumku jarang muncul dua bulan terakhir. Samudra yang tidak pernah mengatakan, “Sabar,” juga tidak pernah mengumbar janji bahwa dia akan pulang sebentar lagi. Hanya samudra yang mampu berbicara soal badai, ombak, angin, persis seperti dongeng-dongeng pengantar tidur dari orang yang aku rindukan. Hanya kepada samudra, aku merasa suatu hal menyebalkan bernama rindu ini, dapat teratasi.


            Sebelum aku bertemu seseorang, yang membuatku berpikir dua kali, apakah rindu yang melanda kepalaku ini lebih penting daripada toleransi dan keutuhan NKRI. Seseorang yang bernama ..... klik di sini

Jumat, 23 September 2016

Tidak Perlu Diberi Judul



Hai.
            
 Eh, hai. Tumben sekali menyapa. Sudah tidak sibuk?
             
Yah begitulah.
             
Bukannya kamu mau ikut event sebentar lagi?
             
Hm, begitulah.
             
Oh, baiklah. Coba aku tebak. Kamu pasti sedang patah hati sore ini. Ya, kan?

Sabtu, 30 April 2016

Kamu (Bukan) Dilan dan Aku (Bukan) Milea



Aku tahu, kamu bukan Dilan, dan diriku bukan Milea. Tapi, tak apa kan, jika kisah kita di masa abu-abu putih ini seperti mereka? Kamu memang bukan anak geng motor seperti Dilan, dan aku juga tidak cantik seperti Milea. Tapi, jika aku dan kamu memberi sedikit warna di masa abu-abu putih ini, siapa tahu kisah kita akan abadi seperti mereka? Ya, meskipun aku tahu bahwa ujungnya, Dilan dan Milea tidak bersama. Aku juga sangat tahu, kamu bukan tipe orang yang ingin melakukan pekerjaan sia-sia—untuk apa berjuang sedemikian rupa jika pada akhirnya tidak akan bersama?

Minggu, 10 April 2016

Setelah Kembali ke Peredaran


"Kamu darimana saja, Arez? Sudah lama tidak datang ke sini. Kamu baik-baik, kan? Tidak sakit?" Google+ memberondongku dengan pertanyaan, padahal kakiku baru menginjak beranda. Aku tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja," jawabku.

Google+ masih menatapku cemas. Seperti tak yakin dengan jawabanku, Google+ menempelkan tangannya di dahiku. Aku mengernyit.

"Oh, syukurlah. Aku kira kamu demam," kata Google+ sambil menurunkan tangannya dari dahiku. Sesaat kemudian, beliau tersenyum lebar. "Mari, mari masuk! Aku punya suguhan baru untukmu!" ajaknya seraya mendorongku masuk.

Benar saja. Saat aku memasuki rumahnya, aku terpukau. Jauh, jauh berbeda dari terakhir aku menginjakkan kaki di sini. Meskipun selera Google+ masih sama, namun, benda-benda yang dipilih untuk mengisi ruangan, membuat rumah ini selama sekian detik, tidak aku kenali. Mungkin, karena pernak-pernik yang terpasang adalah sesuatu yang lebih modern? Lebih baru?

Sabtu, 31 Oktober 2015

Sederhana, kan?



            Sudah sejak tadi pagi aku tak sabar ingin segera malam. Karena kemarin, abangku bilang, dia akan pulang, dan membawa banyak buah tangan, juga sejuta cerita. Abangku yang menempuh pendidikan kemiliteran akan pulang. Dan aku ingin mempercepat hari agar dia lekas datang. Aku ingin segera melepas rindu yang berusaha kusimpan dengan rapi namun tetap saja menumpuk di sudut ruang. Abangku juga bilang, jika perjalanan lancar, dia sampai rumah pukul delapan malam. Ah, tak sabar aku menunggunya di beranda dan membukakan pagar untuknya. Aku juga tak sabar ingin menertawakan kepalanya yang dicukur habis ala tentara.
             
Pagi ini, aku berangkat sekolah dengan semangat 45. Ingin kuhabisi hari, agar siang segera berganti. Jam pelajaran pertama adalah olahraga.  Hanya diisi pemanasan, kemudian olahraga bebas, karena Pak Guru sedang ada kepentingan, dan hanya dapat mengajar sampai pukul delapan. Ah, pukul delapan? Dua belas jam lagi kakakku akan pulang. Aku semakin tak sabar.
            
 Usai olahraga, satu jam pelajaran bahasa Arab adalah kosong. Gurunya ada kepentingan, dan tak diberi tugas. Semakin membuatku ingin pulang karena di sekolah tak ada kesibukan. Barulah di jam pelajaran berikutnya adalah bahasa Inggris. Yang lagi-lagi, sang guru ada kepentingan, dan kami  hanya diberi tugas, yang langsung kuselesaikan secara kilat. Dan pelajaran berikutnya adalah Bimbingan Konseling, yang hanya membahas naskah drama yang telah kubuat tadi malam. Sama sekali tak ada kesibukan yang berarti. Karena ada satu hal yang lebih penting hari ini: menyambut abang pulang.

Jumat, 10 Juli 2015

Salahkah Aku?



Apakah aku salah mencintainya? Bukankah, yang aku rasakan ini sama dengan orang-orang mencinta lainnya? Apa ada yang salah dengan caraku mencinta? Atau, dia adalah orang yang salah?

Pertemuan yang tidak sengaja di Rabu pagi menjelang siang, usai istirahat pertama. Sampai sekarang terus kuingat, bahkan mungkin sampai nanti, sebelum aku terserang pikun atau amnesia. Melihat senyumnya bagai matahari yang mampu menembus kutub utara dan mencairkan esnya. Dia memberi kehangatan ketika hatiku sedang dingin karena tak tersentuh oleh yang namanya cinta. Di sinikah yang salah? Karena aku menganggap dia sebagai pangeran tanpa kuda yang memberiku kenyamanan ketika bersamanya? Tak perlu kereta kencana atau mobil baru keluaran kemarin sore. Aku bersamanya, cukup buatku bahagia.

Selasa, 30 Juni 2015

Belum Berhasil, Bukan Akhir



Untuk teman-teman yang merasa belum berhasil, janganlah meratapi diri. Percayalah, Tuhan sedang menunggumu untuk bangkit. Tuhan juga sedang memilih malaikat terbaik untuk mendampingi. Bahkan, Tuhan telah merencanakan kejutan jika kamu berhasil berdiri lagi. Ayo, kita berjalan kembali, agar malaikat dan Tuhan tidak terlalu lama menanti.
            
 Tak apa menyesal, tapi jangan lama-lama, apalagi dengan tidak belajar melalui kesalahan yang membuat Tuhan menahan keberhasilan. Mari merenung, apa saja yang telah kita perbuat di masa lalu. Mungkin, dengan ini, Tuhan mengingatkan bahwa ada kesalahan yang pernah kita lakukan, dan belum sempat kita perbaiki akhir-akhir ini. Tuhan sedang menegur, jadi kita tak perlu marah atau menghakimi. Yakinlah, Tuhan lebih tahu tanpa perlu kita ajari.
            
 Jika sudah berdoa setiap hari, namun belum dikabulkan Tuhan, bukan berarti Tuhan abai dan tak mau tahu. Mungkin, Tuhan belum melihat usaha yang gigih. Dan Tuhan, lagi-lagi menunggu untuk usaha yang lebih keras. Kencangkan ikat pinggang, dan bertekad: Usaha harus maksimal! Kalau perlu, dikerjakan mati-matian!
             
Kalau sudah begitu, mana tega Tuhan membiarkan umat-Nya tak kunjung mendapat yang mereka mau?
            
 Begini, anggap saja, Tuhan punya nilai minimal usaha manusia. Jika manusia belum mendapat yang ia mau, berarti belum mencapai nilai minimal. Dan Tuhan yang Maha Baik, tak akan membiarkan umat-Nya sendirian tertatih-tatih menuju angka minimal. Tuhan akan mengirim malaikat terbaik untuk menuntun dan membimbing. Tak ketinggalan, Tuhan juga menitipkan hal-hal yang dibutuhkan manusia untuk mencapai angka minimal itu.
             
Jika angka minimal itu tercapai, bahkan usaha kita telah melebihi nilai minimal yang ditetapkan Tuhan, tak segan-segan, Tuhan akan memberi bonus berlimpah. Bisa saja berupa kenikmatan yang bahkan belum sempat terpikirkan sebelumnya.
             
Misalnya, kita sudah belajar mati-matian untuk menembus 5 besar di kelas. Sayangnya, ketika pembagian raport, hanya mendapat ranking 8—tidak sesuai yang kita harapkan. Nah, bisa saja, karena usaha kita kurang memenuhi batas minimal. Jika berusaha lagi, bukankah tinggal sedikit, nilai itu akan terpenuhi? Siapa tahu justru terlampaui, dan Tuhan memberi kejutan lebih hebat dibanding 5 besar di kelas?
            
 Tak menutup kemungkinan, kita yang ranking 8, yang telah belajar mati-matian, justru lolos seleksi beasiswa ke sekolah favorit dan terbaik. Bagaimana? Kejutan dari Tuhan, jauh lebih besar dibanding tujuan kita, kan?
            
 Nah, teman-temanku, janganlah berputus asa lama-lama. Tuhan sedang mengirim paket untukmu: malaikat terbaik dan hal-hal yang lebih kamu butuhkan. Jika yang kamu tuju belum tercapai, paket dari Tuhan akan membantumu mendapat yang lebih baik. Ayo, kita kembali bangkit, berusaha lagi, agar nilai minimal terpenuhi, bahkan terlampaui. Dan yakinlah, Tuhan yang sedang menunggumu kembali berdiri, sedang merencanakan yang terbaik.
             
Percayalah.

Sabtu, 14 Maret 2015

Rumput Taman


Pacitan, beberapa bulan yang lalu, dari tempat tidur paling sudut.



Ini masih jam setengah sebelas. Masih terlalu sore bagiku untuk meletakkan kepala di atas bantal. Pikiranku belum ingin diistirahatkan. Masih melayang-layang, tak tentu arah.

Aku melirik foto-foto di atas meja. Fotoku yang sedang gila, fotoku dengan sepupuku, fotoku sendiri yang berpose KTP, fotoku dengan saudaraku, fotoku dengan Bayu Gatra, dan fotoku.... dengan orang itu. Foto yang sama dengan yang ada di dalam dompet. Yang masih ingin terus kusimpan. Jangan sampai hilang. Itu kenangan satu-satunya dengan dia.

Memori tentang dia langsung merebak. Meruak. Berkelebat dengan cepat. Seiring detak jantungku yang meningkat. Air mata tak kalah cepat segera keluar. Saling susul. Semakin deras sampai kebas. Turun dengan bebas. Tak mampu tertahankan.

Jam sebelas.

Air mataku sudah agak menyusut. Linangan air mata sudah keluar dengan teratur, satu-satu. Tak saling menyalip. Tak saling susul. Aku masih tergugu.

Tak seharusnya aku menangisinya seperti ini. Tak seharusnya aku terjaga selama beberapa malam akhir-akhir ini. Hanya karena aku tidak siap untuk mengucap salam pisah dengannya. Ya. Untuk sebuah alasan yang tak akan kusebut di sini, aku harus berpisah dengan dia. Membawa serta kenangan-kenangan tentang dia yang akhirnya hanya membuatku menangis kencang. Seperti malam ini.

Sabtu, 31 Januari 2015

Study Hard!



Lupa rasanya nulis. Lupa rasanya begadang. Lupa rasanya nuangin ide dari kamar mandi ke Ms. Word. Lupa mantengin timeline sebuah penerbit yang saya cekoki tulisan tidak penting saya. Lupa, dan sekarang saya rindukan. Dan saya merasa, tulisan Times New Roman ukuran sebelas dengan spasi satu setengah, terlihat kecil-kecil. Dan saya juga merasa, ada sesuatu yang kembali ketika tangan saya mengetik huruf per huruf menuliskan pikiran saya.

Saya sudah di kelas akhir. Waktunya belajar, belajar, dan belajar. Mabuk rumus mencari besar gaya, besaran pokok, luas penampang, tekanan, massa jenis, trafo, elektrostatis, magnet, kemudian menghafal berbagai istilah dan nama latin suatu organisme, menghafal nama enzim di berbagai sistem pencernaan, organ peredaran darah, panca indera, saraf, jaringan-jaringan pada tumbuhan, memperkaya vocabulary, rajin mantengin tulisan bahasa Inggris, melatih mata supaya tidak melewatkan kata kunci dari suatu paragraf untuk mencari gagasan utama, ide pokok, simpulan, rangkuman, pidato, dan sebagainya. Sekarang, hari-hari saya diisi oleh itu. Yang menghentikan hanya kompetisi sepak bola di televisi yang diikuti tim jagoan saya beberapa waktu lalu. Selebihnya, kegiatan saya itu-itu saja.

Sekarang, jam belajar ditambah dari jam enam untuk pengayaan di sekolah. Pulang seperti biasa, jam satu, lalu setengah tiga ke bimbingan belajar. Pulang jam enam kurang seperempat, terus belajar lagi. Fisik harus benar-benar prima. Apalagi pikiran. Ngomong-ngomong, berkat padatnya persiapan ujian, saya sudah jarang memikirkan dia. Saya baru sadar, melenyapkan dia ternyata semudah ini: tinggal belajar seserius mungkin.

Di sini, menulis dan tidur, yang sudah jadi bagian dalam kehidupan saya, lebih jadi sahabat lama yang berubah jadi orang asing, tapi memanggil-manggil saya untuk segera kembali—untuk mengenalinya lagi. Jika sudah begini, saya bertanya pada diri saya sendiri: Apakah semester enam sudah benar-benar merenggut saya? Apakah teman-teman lama saya (tidur dan menulis) sekarang sedang pedih hatinya, karena saya sudah jarang bersama mereka? Bayangkan saja, sahabat karib kalian yang hampir tiap waktu bersama kalian, tiba-tiba berubah, tak pernah lagi bersama kalian, justru sedang berusaha berteman dengan orang lain. Kalian tahu jika (mantan) sahabat kalian tidak suka dengan teman barunya, tapi (mantan) sahabat kalian tidak minta pertolongan kalian untuk menemaninya. Sakit?

Di hari Rabu, saya sakit. Hati saya sakit. Saya menangis sepanjang hari. Sebenarnya ingin saya ceritakan di sini. Tapi, sakit itu telah pergi. Mungkin, tak jauh-jauh, karena, setiap ada orang yang mengungkitnya, sakit itu kembali. Bagi teman-teman yang juga sakit, tapi seolah sakit itu sudah pergi, kapan-kapan kita sharing di sini. Untuk sekarang, saya sedang tak ingin membahasnya. Takut menangis di malam minggu yang begitu berharga bagi saya.

Saya sedang tak ingin menulis cerita. Cerita saya, ya, ini. Pengalaman kepadatan kegiatan saya menghadapi ujian akhir nanti. Untuk teman-teman yang sama dengan saya: menghabiskan waktu dengan buku setebal lima senti berisi materi dan soal latihan ujian, semoga Tuhan meridhoi usaha kita, dan memperlancar kegiatan ujian akhir nanti, dan dapat melanjutkan ke sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi, yang kita ingini. Jangan lupa, restu orang tua, di saat-saat seperti ini begitu penting. Sampai jumpa!  

Jumat, 09 Januari 2015

Bulan atau Bintang?



“Nggak dilanjutin belajar matematikanya?”
“Ehm, ha? Belajar?” lalu pandangan gadis itu beralih pada lembaran kertas tercoret angka, tanda plus, min, kali, bagi, mencari x, aritmatika, dan sebagainya. Berpindah lagi menatap kakaknya yang tampak menunggu jawabnya. Gadis itu mendesah keras.
“Buat apa, Mas, belajar? Toh, yang dapet nilai bagus bukan anak-anak yang belajar,” kata gadis itu terlihat kesal. Belum sempat si Abang mengerti apa yang diucapkan adiknya, gadis itu bercerita, “Aku lagi mikir nilai IPS . Baru tadi diumumin, dan ternyata, harusnya aku remidi. Tapi, karena nilai di raport masih di atas KKM, aku nggak jadi remidi.” Gadis itu menghela nafas. “Dan banyak anak tak terduga yang membuat kejutan. Yang biasanya lempeng-lempeng aja, nilai ulangan mereka bisa menjulang,” miris gadis itu tersenyum. Kakaknya manggut-manggut, mulai paham maksud adiknya.
            “Ehm, yang nilai mepet atau remidi Cuma kamu?”

Kamis, 01 Januari 2015

Jika




Hujan telah berhenti. Tak meninggalkan jejak apapun selain aroma tanah basah yang kini tak menguar lagi. Hanya jejak-jejak air di luar yang malas kulihat di jalanan dan halaman rumah. Bahkan, serangga di belakang rumah, tak ikut bernyanyi, entah mengapa. Apakah ini ada hubungannya dengan dirimu atau bukan, aku tak tahu. Atau ada hal lain yang mereka sembunyikan dariku? Atau..... ah, aku malas berfilosofi. Mungkin saja, mereka tidak bernyanyi karena tenggorokan mereka sedang gatal atau terkena radang.
            
Ini sudah lewat jam dua belas malam. Dulu, aku sering melewatkan pergantian hari denganmu, bukan? Apakah kamu masih ingat ketika saat-saat seperti ini, adalah perbincangan hangat kita berada pada puncaknya? Membahas siapapun, membicarakan apapun, berkhayal sampai jauh, dan biasanya, berakhir dengan tawa yang kita gambarkan melalui emotikon. Menandakan bahwa kita begitu bahagia. Hanya aku dan kamu, tanpa melibatkan satu orang pun. Ya, hanya kita. Apa kamu masih ingat?
            
Oh ya, seharusnya aku tak perlu mengingat-ingat, bukan? Seharusnya aku melupakanmu, bukan? Satu-satunya penghubung media sosial kita sudah kamu putuskan. Jadi, bukankah seharusnya aku berterima kasih padamu yang telah repot-repot meng-klik 'Hapus Pertemanan'?
             
Asal kamu tahu, aku sudah berusaha melupakanmu. Aku sudah berusaha terlihat baik-baik saja di depanmu. Aku sudah berusaha menampakkan sikap ‘tanpa kamu, aku bisa hidup’, di depan orang-orang. Dan, mereka percaya. Bagaimana denganmu? Ehm, mungkin, kamu tak perlu pura-pura untuk itu. Semenjak kamu memutuskan menjauh, tentu kamu sudah bersikap ‘sangat baik-baik saja’ bahkan, ‘sangat bahagia’. Iya? Benarkah begitu? Tanpa memikirkan perasaan gadis yang setiap malam menanti pesan singkatmu memasuki kotak masuknya? Tentu saja kamu memikirkan, hanya saja, kamu memilih mengabaikan. Bukankah begitu?
            
Aku tak akan menulis banyak-banyak di sini. Toh, kamu sekarang sudah jarang atau mungkin, tak pernah membaca tulisanku, kan? Apa pedulimu? Pasti kamu memilih membaca pesan singkat seorang gadis yang sekarang sudah mengisi posisiku, bahkan lebih dari arti diriku dulu di hidupmu. Dulu aku hanya ‘sahabat’mu. Dia sekarang ‘kekasih’mu. Berbeda? Atau sama, hanya beda sedikit? Ah, entahlah. Oke, oke. Aku tak akan menulis banyak-banyak di sini. Tak akan, sebelum kenangan-kenangan itu membunuhku pelan-pelan. Sebelum aku menangis kencang.

Jika aku hanya temanmu, untuk apa kamu terlalu sibuk mengajariku tak ingat lagi padamu?
Jika aku bukan temanmu, untuk apa kamu sibuk membaca tulisanku, lalu menghubungkannya padamu?

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini