Jumat, 12 Agustus 2016

Ritual Minggu Pagi



Mungkin esok, atau lusa, kamu akan mengerti, mengapa aku jatuh cinta padamu berkali-kali. Kamu tidak pernah menyadari betapa kamu adalah pemuda yang istimewa. Pembuat banyak tawa, pencipta rindu yang hebat. Kamu tidak tahu bahwa pernah pada suatu masa, aku menyebut namamu di balik setiap alasanku memilih atau memutuskan sesuatu. Aku sempat menjadikan kota yang sering kamu ceritakan berkali-kali itu, sebagai kota tujuanku nanti. Karena hanya melalui ceritamu, aku sudah jatuh hati dengan kota itu, lantas merasa bahwa kota itu memang tepat untukku.

Butuh waktu lama untuk menemukan alasan lain, bahwa kota itu bukan sekadar kota yang aku suka hanya karena ceritamu. Aku perlu berada di sana beberapa waktu, untuk mencintai kota itu tanpa alasan apapun. Bukan karena kamu.

Senin, 25 Juli 2016

Terima Kasih Untuk 3 Tahun Ini



            Kami menemukannya pada tahun 2013. Beberapa bulan setelah kucing pertama kami meninggalkan rumah. Waktu itu tubuhnya masih sangat mungil, belum bisa mengeong, bulunya masih jarang dan pada berdiri. Jika anak kucing lain biasanya langsung menghindar ketika kami mendekat, dia tidak. Justru selalu keliling rumah, mencari celah supaya bisa masuk. Dia seperti menemukan rumahnya sendiri.

Sehari setelah ia menampakkan diri di pekarangan rumah, ia kedapatan sekarat di halaman belakang. Tubuh mungilnya tergolek lemah di antara pasir-pasir. Bulunya berwarna cokelat muda yang membuatnya hampir tidak terlihat berada di sana. Jika mata tidak jeli, bisa saja ia terinjak, karena selain tubuhnya seperti berkamuflase di atas pasir, ia juga belum bisa bersuara. Hanya menatap kami dengan sorot mata sayu yang menimbulkan rasa iba pada siapapun yang melihatnya.

Sabtu, 16 Juli 2016

Pertemuan



Teruntuk kota yang tidak masuk daftar tujuan wisata
Terima kasih telah berbaik hati menjadi latar sebuah pertemuan
Untuk mendung, senja, dan gerimis
Terima kasih telah menyempurnakan pertemuan tak disengaja

Kamis, 23 Juni 2016

Jogja Tak Lagi Sama



Aku tahu, Jogja tak lagi sama.

Mungkin pedagang di warung tenda itu sudah pindah. Mungkin mahasiswa yang dulu masih suka tongkrongan di pinggir jalan, sudah pada wisuda. Mungkin rumput yang ada di lapangan itu sudah dipangkas lalu tumbuh lagi. Mungkin pagar pembatas sudah ada pertambahan karat di beberapa sisi. Mungkin beberapa bangunan telah dicat ulang.

Jogja tak lagi sama. Awan mendung yang dulu menaungi pertemuan pertama, telah turun sebagai hujan beberapa hari kemudian. Lantas menguap lagi, membentuk awan, hujan, menguap, awan, hujan, begitu seterusnya dua tahun terakhir.

Minggu, 19 Juni 2016

Terima Kasih Telah Pergi



Tempat ini ramai seperti pertama kali aku menjejakkan kaki ke sini. Pelayan-pelayan yang seketika menyambutku, juga sapaan hangat dari balik kasir. Kalau aku tidak menahan salah satu pelayan yang hafal seleraku, mungkin secangkir cappucino sudah tersaji di meja. Tapi, tidak. Aku ke sini bukan untuk menikmati minuman favoritku. Pelayan itu mengerutkan kening samar, namun tidak bertanya lebih lanjut. Aku hanya bilang jika sedang menunggu teman, dan akan memesan nanti-nanti.
             
Setengah jam duduk tanpa pesanan apapun, pemuda itu akhirnya datang. Tersenyum lebar, menarik kursi di depanku, kemudian duduk. Ia memanggil pelayan yang kemudian tersenyum-senyum melihat kami. Aku tahu, dia tahu mengenai hubungan kami dalam bagian baik-baik saja. Dan pelayan itu tak perlu tahu jika hubungan kami yang baik-baik saja itu telah berakhir begitu saja.

Senin, 13 Juni 2016

Cinta Cappucino



Kafe ini masih ramai seperti saat pertama kali aku menjejakkan kaki di sini. Meja berbentuk lingkaran berwarna putih, satu paket dengan sepasang kursi hijau diletakkan berhadapan. Pelayan-pelayannya juga masih ramah seperti dulu. Bahkan, beberapa dari mereka—terutama yang sudah senior, selalu menyapaku jika aku berkunjung ke sini. Mereka sudah hafal denganku, sama hafalnya dengan minuman favoritku: secangkir cappucino.

Sekarang, aku duduk di sudut kafe—salah satu tempat favoritku di sini, sambil mengamati orang-orang yang datang dan pergi di kafe ini. Mulai dari segerombolan remaja yang pulang sekolah, lalu dengan santainya mereka memblokade beberapa meja dan kursi, sambil tertawa-tawa—entah apa yang mereka tertawakan.

Suara lonceng khas tanda pintu terbuka, berdentang di telinga. Otomatis pandanganku mengarah pada pintu masuk.

Cerita Ramadhan #1



Puasa satu minggu pertama. Aku menghela napas panjang. Ponselku bergetar tanpa henti. Terus saja menerima pesan dari beberapa grup, yang kesemuanya adalah membahas rencana buka bersama. Memilih tempat, menyesuaikan hari. Si pembuat rencana, biasanya mengutuk teman-teman yang tidak kunjung muncul di obrolan grup. Si aktif, biasanya memberikan sederet usul. Soal hari, tempat, menu makanan, sampai budget yang harus dikeluarkan. Si pasif, biasanya menanggapi dengan “Terserah”. Dan ketika si pembuat rencana memilih hari sesuai daftar milik si aktif, si pasif muncul kembali, dan bilang “Tidak bisa”. Si pembuat rencana kembali memutar kepala, lagi-lagi harus memilih hari.
             
Begitu saja terus. Selama satu minggu pertama bulan ramadhan.

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini