Rabu, 17 Juni 2015

Satu Tahun



Bagaimana hari pertama bulan Ramadhan tahun ini? Ehm, tentu saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Jamaah tarawih hari pertama membludak sampai keluar masjid, acara-acara televisi melibatkan sponsor dengan kuis hadiah jutaan rupiah, status di media sosial menyambut Ramadhan juga memenuhi timeline. Meriah sekali di hari pertama. Tentu akan meriah lagi di hari terakhir, dan menyusut di pertengahan bulan.
             
Untuk Ramadhanku tahun ini, ehm, masih terngiang jelas satu tahun yang lalu. Tentang Jogja dan pemain muda itu. Ya, tak terasa sudah satu tahun semenjak pertemuanku dengannya. Sedikit-banyak, aku merindukan itu. Pertemuan tak disengaja, menjelang bulan Ramadhan tahun lalu. Sebenarnya, ingin aku ceritakan lagi bagaimana waktu itu, tapi tentu saja akan sangat membosankan, karena rangkaian tulisan yang terhenti di bulan Desember 2014, sudah menggambarkan detail ‘kebetulan’ satu tahun yang lalu.

Sayangnya, Aku Menyayangimu






Gambar diambil via kaskus

Ini salahku
Salahku yang mencintaimu
Kamu, membuat hatiku terantuk, lalu jatuh
Tepat sekali hatiku jatuh
Ke pelukmu

            Ingin aku mengulang hari dimana kita bertemu
            Aku janji, jika aku berada di hari itu, aku akan lebih berhati-hati
            Agar aku tidak tersandung, dan hatiku tidak jatuh
            Agar cinta ini tidak semakin tumbuh

Senin, 15 Juni 2015

Sama-sama, Dik



Sebelumnya baca: Terima Kasih, Tuan

Pertama-tama, aku sedikit terkejut membaca surat yang kamu kirim tempo hari. Tak menyangka, kamu justru membuatkanku tulisan seperti ini. Kupikir, kamu akan membuatkanku novel bertajuk namaku dan berisi ceritaku. Entahlah, aku tak begitu paham dunia tulis-menulis. Aku juga tak paham alur pikiranmu, yang ternyata tidak sesimple: kamu suka aku.

Minggu, 14 Juni 2015

Aku Juga Minta Maaf




Maafkan, Mas, bukan maksudku mengabaikanmu. Perlu kamu tahu, aku tidak sekeji itu. Aku tidak seperti yang kamu ceritakan dalam tulisan itu. Mengenai aku berteriak-teriak menyemangati si pemain pertama itu, tak lain karena dia adalah kakak kelasku di sekolah dulu, wakil negara pula. Memang benar, aku mengidolakannya. Tapi sungguh, bukan karena alasan apapun. Hanya karena dia kakak kelasku. Sumpah, itu saja. Bukankah kamu sendiri sudah tahu, kepada siapa hatiku berlabuh?

Jumat, 12 Juni 2015

Maafkan Aku Karena Ini Untukmu



Aku sedikit picik memang. Menyangkutpautkan dirimu dalam permainanku. Tapi kupikir, itu sah-sah saja dalam bulutangkis. Tak ada ketentuan motivasi memenangkan pertandingan adalah untuk apa dan siapa. Jujur, ini bukan untuk diriku atau untuk negara. Tekadku untuk menang, adalah untukmu. Untuk menarik sedikit saja perhatianmu yang seluruhnya kamu curahkan kepada teman setimku. Iya, yang sekarang mengelu-elukan namaku, dan memelukku berkali-kali. Bocah 18 tahun itu, mengucap terima kasih bertubi-tubi padaku, karena telah menyelamatkan wajah satu regu. Bukannya sombong, tapi aku yang dipilih pelatih untuk bermain paling akhir, sebagai penentu kemenangan pula. Sedangkan orang yang kamu puja itu? Bermain pertama kali, tapi bukan dia pengumpul poin pertama. Sempat menurunkan mental satu regu, kamu tahu?

Kamis, 11 Juni 2015

Terima Kasih, Tuan



Terima kasih untuk tetap peduli. Terima kasih untuk masih perhatian. Terima kasih karena tak mengurangi kebaikan. Terima kasih tak menjauhiku, bahkan berpura-pura tidak tahu, sehingga tak membuatku teramat canggung. Terima kasih untuk tetap di sini, menjadi temanku. Terima kasih untuk tak menyuruhku membunuh perasaan yang lancang ini. Terima kasih, Tuan.
             
Aku beruntung mengenalmu. Dengan segala kebaikanmu, aku tidak menyesal telah jatuh hati padamu. Meskipun, ada wanita lain yang lebih beruntung dariku, yang mampu merenggut perhatianmu. Tak apa, aku cukup bersyukur, karena dengan mengenalmu, aku tahu arti ‘cinta tak perlu memiliki’.
            
 Aku berusaha untuk tahu diri, bahwa aku hanya temanmu. Dari sekian banyak pertemuan, memang aku yang terlalu menutup diri. Berpura-pura diam dan tak melihat kehadiranmu. Aku kelewatan memang, tapi itu tanpa sengaja kulakukan, karena takutku secara refleks memproteksi perasaan yang memenuhi rongga hati ini agar tidak menerobos keluar dan akhirnya sampai padamu. Sampai kepadamu pun tak masalah, yang jadi masalah adalah jika kamu menjauh. Hanya itu.
            
 Jadi, aku mohon, biarlah seperti ini. Tetaplah seperti ini. Aku mohon, biarkan. Aku tahu, kamu sudah tahu mengenai hal ini. Meski aku selalu berharap, jikapun aku sedang promosi blog, dan kebetulan melewati beranda facebookmu, itu tak membuatmu membaca tulisan-tulisanku. Karena, sebelum kamu meminta menuliskan cerita tentangmu pun, kisahmu sudah banyak menghuni blog. Hanya aku samarkan, karena sekali lagi, aku takut jika kamu tahu kemudian menjauh.
             
Aku tahu kamu sudah tahu. Aku tahu kamu hanya berpura-pura tidak tahu. Jadi, terima kasih atas kepura-puraanmu yang membuat hatiku tidak kentara sakitnya. Terima kasih untuk tidak menjauh. Terima kasih untuk tidak mengotak-atik perasaanku. Terima kasih karena cinta yang bertepuk sebelah tangan ini, tidak kamu pandang sebelah mata. Terima kasih, Tuan.



           
 .......Aku berpura-pura tidak tahu jika kamu sudah tahu, dan kamu berpura-pura tidak tahu dengan perasaanku. Semoga, aku dan kamu tidak lelah dengan kepura-puraan. Tetaplah seperti ini. Berpura-pura, sampai aku dan kamu lupa jika sedang berpura-pura.....

Jumat, 22 Mei 2015

Setelah Aku Memilih Pergi



Merindukanmu di malam-malam seperti ini, sebenarnya sudah biasa kulakukan. Lalu, tanganku tergerak untuk kembali menekunimu melalui dunia maya. Kadang-kadang tersenyum melihat fotomu yang terlihat kocak dengan kaos warna favoritmu yang belum berubah dari dulu: biru. Yang berubah adalah, kamu sekarang sibuk dengan group musikmu yang karirnya semakin menanjak, dan aku yang sekarang sibuk belajar, pengayaan, dan les. Selain itu, semuanya masih sama. Kamu yang di sana, dan aku yang di sini. Tak pernah satu, meskipun tak pernah terlibat pertengkaran satu pun.
            
 Tak pernah aku menanyakan kabarmu. Apakah kamu baik-baik saja setelah aku memilih pergi dari hidupmu karena aku pikir, kamu tak akan menangis hanya karena aku sudah tak berada di sampingmu. Bukankah, selama ini aku tak berarti bagimu? Untuk apa kamu mencariku, jika saat aku masih berada di depanmu, kamu tak menampakkan hal spesial satu pun? Bukankah itu tandanya aku sama sekali tak istimewa di hidupmu? Tak perlu, kan, aku berharap tinggi-tinggi?

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini