Seharusnya ini bukan senja terakhir. Seharusnya ini senja paling
membahagiakan untukmu, Seharusnya saat ini kita masih bisa duduk di pinggir
pantai sambil tertawa menikmati sunset. Jika saja, 2 jam yang lalu aku
berhasil mengurungkan niatmu untuk pergi ke kampus. Jika saja aku sukses
menghentikan langkahmu masuk ke sedan hitammu untuk ke kampus, pasti ini bukan
senja terakhir kita.
Sabtu, 26 April 2014
Jumat, 25 April 2014
Hanya Dalam Diam
Mungkinkah ini penderitaan, jika aku hanya bisa mengamatimu dalam diam?
Atau ini kenikmatan jika dalam diam, aku jatuh cinta?
Rabu, 09 April 2014
Dia (Bukan) Untukku - Episode 4
Malam
minggu. 2 kata yang biasanya selalu kutunggu. Saat-saat dimana kita sebagai
pelajar, dimanjakan dengan 1 kata. Santai. Selama aku hidup, malam minggu tak
pernah kulewatkan dengan sia-sia. Tapi, tidak untuk hari ini. Aku merasa bosan
dengan acara televisi yang semakin tidak jelas; sosial media yang sudah sangat
sering kukunjungi; permainan di komputer yang sudah kuselesaikan sampai level
tertinggi.
Sabtu, 29 Maret 2014
Dia (Bukan) Untukku - Episode 3
Setiap
aku di luar rumah, dan kebetulan Ravi juga di luar rumah, aku pasti segera
bersembunyi ke dalam rumah. Aku masih malu untuk sekedar tahu batang hidungnya.
Banyak sekali malu yang kutimbulkan sendiri. Dari yang aku ketus dengan seorang
polisi, padahal polisi itu ingin menolongku, sampai aku dengan sok tahunya
menduga dia adalah seorang anak kos. Ravi... Ravi... Aku tersenyum sendiri
memikirkan tetanggaku itu.
Sabtu, 22 Maret 2014
Dia (Bukan) Untukku - Episode 2
Sudah
beberapa hari ini, aku melihat polisi muda itu keluar-masuk kosnya. Bahkan,
terkadang membawa motor polisi yang sering kulihat di jalan raya. Keren sih.
Coba saja dia tidak membuatku terlambat. Pasti aku betah nangkring di teras
ngelihatin dia. Hihi. Pikirku jahil sembari memeriksa tugas buat besok.
Kamis, 20 Maret 2014
Surat dari Balik Kaca
Kita tak pernah bertemu.
Kamu pun belum mengenalku. Aku hanya menemukanmu melalui layar kaca. Sebuah
pagar yang jadi pemisah dunia kita. Dunia yang lebih pongah dari dunia maya,
tak mau disentuh oleh jemari tangan. Tak pernah terhubung secara audio maupun
visual.
Rabu, 19 Maret 2014
Surat di Malam Insomnia
Selamat membaca surat yang kubuat di malam-malam aku insomnia :))
Selasa, 18 Maret 2014
“Selamat malam”. Kata itu spontan terucap dari bibirku ketika kamu
tertangkap mataku. Senyumku otomatis berkembang ketika kamu tertangkap oleh
kamera televisi. Kamu muncul di layar kaca! Sialan! Aku berteriak-teriak tak
jelas ketika kamu memasuki lapangan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Kamu Harus Baca Ini
#SWORDS's After Story
Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini. Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...
Banyak yang Baca Ini
-
Sudah sejak tadi pagi aku tak sabar ingin segera malam. Karena kemarin, abangku bilang, dia akan pulang, dan membawa banyak...
-
“Nggak dilanjutin belajar matematikanya?” “Ehm, ha? Belajar?” lalu pandangan gadis itu beralih pada lembaran kertas tercoret angka, t...
-
Sahabatku baru saja bercerita tiga menit tanpa jeda. Tentang salah seorang pemuda yang buatnya melayang-layang tak berdaya. Pemuda yang...
