Semakin ke sini, manusia semakin kelihatan rumit ya.
Entah karena jaman memang sedang runyam, atau karena usia menuntutku untuk melihat satu hal dari berbagai sudut pandang.
Lucu sekali.
Saat dulu aku sedang senang-senangnya menulis, suka sama si ini, suka sama si itu, kecewa sendiri--menganggap kekecewaan itu sebagai patah hati, kemudian meninggalkan jejak di blog ini.
Ternyata masa-masa itu sudah lewat.
Aku sudah jarang berkunjung ke sini karena ada hal lain yang lebih menarik dari sekadar menggali luka lama atau mengungkit rasa sakit. Ada yang seharusnya lebih dipahami dari sekadar suka terhadap seseorang hanya karena wajah atau kepopuleran.
Kadang masih tidak menyangka kalau pada akhirnya aku, hari ini, berada di posisi ini. Bisa melihat apa yang dulu masih abu-abu, menjadi lebih jernih. Walaupun yang lebih jelas pun justru membuat kepala semakin pusing.
Tapi tidak apa-apa, aku jadi bisa belajar.
Munculnya tulisan ini merupakan tanda pergeseran konten. Aku belum tahu pasti apa yang nanti akan aku tuang di sini. Yang jelas, setelah mengalami yang namanya benar-benar jatuh cinta kemudian patah hati, rasanya tidak pantas menulis yang menye-menye lagi.
Jika ada yang bertanya, apakah aku masih aktif menulis?
Ya, aku masih sering menulis. Hanya saja, kini medianya tidak cuma blog. Makanya hampir tidak pernah lagi mampir kemari.
Tenang. Aku bukan menghilang. Hanya punya kesibukan lain.
Seandainya kamu ingin menghubungiku, sosial mediaku masih aktif semua. Nomor ponselku juga tidak pernah ganti, itu juga kalau kamu masih simpan.
Tapi tidak apa-apa kalau kamu cuma ingin membaca tulisanku. Blog ini sebentar lagi terisi kembali. Terima kasih.
Jumat, 24 April 2020
Jumat, 24 Januari 2020
Second Account
Hari
ini, aku membayangkan,
Bagaimana
kalau suatu hari nanti kamu iseng mengetik sebuah nama di kolom twitter, kemudian menemukan aku?
Bukan,
bukan aku
Tapi
akun milikku.
![]() |
| Foto diambil dari Pinterest |
Sabtu, 11 Januari 2020
Fotografi dan Kamu
Kamu tahu, kenapa aku menyukai fotografi?
Karena aku bisa fokus pada satu-satunya objek di dunia yang ingin aku lihat selamanya.
Kamu tahu, kenapa aku menyukai malam ini?
Karena ada rehearsal.
Salah satu kesempatan aku untuk menatap kamu lebih lama.
Aku bisa melihat kamu berlarian ke sana kemari, mempersiapkan banyak hal.
Karena aku bisa fokus pada satu-satunya objek di dunia yang ingin aku lihat selamanya.
![]() |
| Foto diambil dari instagram saythename_17 |
Kamu tahu, kenapa aku menyukai malam ini?
Karena ada rehearsal.
Salah satu kesempatan aku untuk menatap kamu lebih lama.
Aku bisa melihat kamu berlarian ke sana kemari, mempersiapkan banyak hal.
Minggu, 29 Desember 2019
Selamat Tinggal
Mari
lakukan upacara perpisahan ini secara natural
Tidak
perlu protokol yang berbelit-belit macam birokrasi
Tidak
harus ada komandannya
Toh
pesertanya cuma kita
![]() |
| Foto diambil dari Pinterest |
Rabu, 20 November 2019
Temu Untuk Bertamu
Kamu memang tidak lagi seistimewa itu.
Aku tidak lagi merasakan degup jantung yang menggebu; bingung mau pakai
baju apa; ribet make up seperti apa
supaya terlihat tidak pucat tapi tidak menor; apalagi menyemprotkan parfum
banyak-banyak sampai kepikiran untuk mandi parfum saja.
You’re not special anymore.
Kini aku bisa menahan jemari tanganku untuk tidak menulis ulang
percakapan kita di twitter. Tidak berkeinginan meng-upload roomchat kita di fitur
cerita sosial media yang padahal lebih “hangat” daripada
sebelum-sebelumnya. Aku bahkan tidak mengeluarkan ponsel ketika aku dan kamu
berbincang tentang banyak hal.
Kocak ya.
Ketika aku sudah tidak lagi menganggapmu spesial, kamu justru melakukan
segala hal yang tadinya hanya aku impikan. Kamu menjemputku di rumah;
mengantarku ke manapun aku mau; menemaniku pusing-pusing karena tugas; meladeni
kebawelanku; dan tetap mengembalikanku pulang ke rumah dengan selamat.
Kamu juga bercerita lebih banyak. Entah
mungkin karena aku sudah bisa menimpali dengan lebih komunikatif atau kamu
sedang butuh teman bicara. Yang jelas, aku tidak perlu pura-pura tertarik
dengan apa yang kamu omongkan sehingga ketidak-antusiasanku bisa kamu tanggapi dengan mengalihkan topik obrolan.
Lucu saja.
![]() |
| Photo by Max Böhme on Unsplash |
Minggu, 03 November 2019
Pergilah, Tidak Apa-Apa
Disarankan mendengarkan lagu ini --> Background Music Extraordinary You Episode 19 - 20 <-- untuk baca tulisan ini :))
![]() |
| Photo by Anastasia Vityukova on Unsplash |
Ya
sudah, pergi saja, tidak apa-apa. Dari dulu pun aku sudah mempersiapkan
perpisahan, sebelum harus merasa sakit karena kehilangan. Aku bahkan telah
menulis ucapan terima kasih karena kamu membuatku banyak belajar dalam memahami
diri sendiri dan tentang orang lain.
Mungkin
memang saat ini adalah waktunya kamu buat pergi. Aku tidak punya hak untuk
menahanmu lebih lama di sini. Bersama kamu sampai sejauh ini pun kejadian di
luar dugaan yang patut aku syukuri.
Senin, 23 September 2019
Pretended League
Mau sampai kapan kita berlomba
siapa yang paling bahagia?
Sama-sama
berusaha memberikan senyum dan tawa paling lebar, padahal kepala kita masih
menyimpan sakit hati dan kecewa. Apakah kamu baik-baik saja dengan itu?
![]() |
| Photo by Jonathan Pendleton on Unsplash |
Langganan:
Postingan (Atom)
Kamu Harus Baca Ini
#SWORDS's After Story
Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini. Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...
Banyak yang Baca Ini
-
Sudah sejak tadi pagi aku tak sabar ingin segera malam. Karena kemarin, abangku bilang, dia akan pulang, dan membawa banyak...
-
“Nggak dilanjutin belajar matematikanya?” “Ehm, ha? Belajar?” lalu pandangan gadis itu beralih pada lembaran kertas tercoret angka, t...
-
Sahabatku baru saja bercerita tiga menit tanpa jeda. Tentang salah seorang pemuda yang buatnya melayang-layang tak berdaya. Pemuda yang...





