Tempat ini
ramai seperti pertama kali aku menjejakkan kaki ke sini. Pelayan-pelayan yang
seketika menyambutku, juga sapaan hangat dari balik kasir. Kalau aku tidak
menahan salah satu pelayan yang hafal seleraku, mungkin secangkir cappucino
sudah tersaji di meja. Tapi, tidak. Aku ke sini bukan untuk menikmati minuman
favoritku. Pelayan itu mengerutkan kening samar, namun tidak bertanya lebih
lanjut. Aku hanya bilang jika sedang menunggu teman, dan akan memesan
nanti-nanti.
Setengah jam duduk tanpa pesanan
apapun, pemuda itu akhirnya datang. Tersenyum lebar, menarik kursi di depanku,
kemudian duduk. Ia memanggil pelayan yang kemudian tersenyum-senyum melihat
kami. Aku tahu, dia tahu mengenai hubungan kami dalam bagian baik-baik saja. Dan
pelayan itu tak perlu tahu jika hubungan kami yang baik-baik saja itu telah
berakhir begitu saja.