Kafe
ini masih ramai seperti saat pertama kali aku menjejakkan kaki di sini. Meja
berbentuk lingkaran berwarna putih, satu paket dengan sepasang kursi hijau
diletakkan berhadapan. Pelayan-pelayannya juga masih ramah seperti dulu. Bahkan,
beberapa dari mereka—terutama yang sudah senior, selalu menyapaku jika aku
berkunjung ke sini. Mereka sudah hafal denganku, sama hafalnya dengan minuman
favoritku: secangkir cappucino.
Sekarang,
aku duduk di sudut kafe—salah satu tempat favoritku di sini, sambil mengamati
orang-orang yang datang dan pergi di kafe ini. Mulai dari segerombolan remaja
yang pulang sekolah, lalu dengan santainya mereka memblokade beberapa meja dan
kursi, sambil tertawa-tawa—entah apa yang mereka tertawakan.
Suara
lonceng khas tanda pintu terbuka, berdentang di telinga. Otomatis pandanganku
mengarah pada pintu masuk.