Senin, 13 Juni 2016

Cerita Ramadhan #1



Puasa satu minggu pertama. Aku menghela napas panjang. Ponselku bergetar tanpa henti. Terus saja menerima pesan dari beberapa grup, yang kesemuanya adalah membahas rencana buka bersama. Memilih tempat, menyesuaikan hari. Si pembuat rencana, biasanya mengutuk teman-teman yang tidak kunjung muncul di obrolan grup. Si aktif, biasanya memberikan sederet usul. Soal hari, tempat, menu makanan, sampai budget yang harus dikeluarkan. Si pasif, biasanya menanggapi dengan “Terserah”. Dan ketika si pembuat rencana memilih hari sesuai daftar milik si aktif, si pasif muncul kembali, dan bilang “Tidak bisa”. Si pembuat rencana kembali memutar kepala, lagi-lagi harus memilih hari.
             
Begitu saja terus. Selama satu minggu pertama bulan ramadhan.

Kamis, 05 Mei 2016

Maafkan Milea-mu, Dilan-ku



13.28.
             
Mataku membuka pelan-pelan, mengerjap-ngerjap. Menoleh pelan ke jendela. Hujan membungkus kota siang ini. Aku menguap lebar-lebar. Meregangkan tubuh. Sebelah tangan meraih ponsel, dan kudapati lima panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Dilanku.
             
Aku tersenyum masam. Aku berjanji akan menonton pertandingan basketnya pukul 14.15 siang ini. Sementara sekarang sudah hampir setengah dua, tapi aku belum apa-apa. Baru bangun dari tidur siang. Dia telah berjanji akan bermain paling bagus untukku. Aku tertawa kecil saat ia mengatakan itu. Tentu saja ia nanti bermain bagus atas nama tim—demi sekolahnya, sekolahku juga. Aku mendesah pelan, menoleh kembali ke jendela. Hujan memelan, berubah jadi gerimis kecil-kecil. Setelah meregangkan tubuh sekali, aku baru bangkit, menuju kamar mandi. Cuci muka, ganti baju, kemudian menuju gelanggang olahraga kota.

Sabtu, 30 April 2016

Kamu (Bukan) Dilan dan Aku (Bukan) Milea



Aku tahu, kamu bukan Dilan, dan diriku bukan Milea. Tapi, tak apa kan, jika kisah kita di masa abu-abu putih ini seperti mereka? Kamu memang bukan anak geng motor seperti Dilan, dan aku juga tidak cantik seperti Milea. Tapi, jika aku dan kamu memberi sedikit warna di masa abu-abu putih ini, siapa tahu kisah kita akan abadi seperti mereka? Ya, meskipun aku tahu bahwa ujungnya, Dilan dan Milea tidak bersama. Aku juga sangat tahu, kamu bukan tipe orang yang ingin melakukan pekerjaan sia-sia—untuk apa berjuang sedemikian rupa jika pada akhirnya tidak akan bersama?

Minggu, 10 April 2016

Setelah Kembali ke Peredaran


"Kamu darimana saja, Arez? Sudah lama tidak datang ke sini. Kamu baik-baik, kan? Tidak sakit?" Google+ memberondongku dengan pertanyaan, padahal kakiku baru menginjak beranda. Aku tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja," jawabku.

Google+ masih menatapku cemas. Seperti tak yakin dengan jawabanku, Google+ menempelkan tangannya di dahiku. Aku mengernyit.

"Oh, syukurlah. Aku kira kamu demam," kata Google+ sambil menurunkan tangannya dari dahiku. Sesaat kemudian, beliau tersenyum lebar. "Mari, mari masuk! Aku punya suguhan baru untukmu!" ajaknya seraya mendorongku masuk.

Benar saja. Saat aku memasuki rumahnya, aku terpukau. Jauh, jauh berbeda dari terakhir aku menginjakkan kaki di sini. Meskipun selera Google+ masih sama, namun, benda-benda yang dipilih untuk mengisi ruangan, membuat rumah ini selama sekian detik, tidak aku kenali. Mungkin, karena pernak-pernik yang terpasang adalah sesuatu yang lebih modern? Lebih baru?

Minggu, 31 Januari 2016

Intuisi



Akhirnya dia benar-benar datang. Tersenyum lebar sambil menenteng tas. Wajahnya terlihat segar habis mandi. Dan benar saja. Aroma wangi yang aku tahu bukan produk parfum, menyambut hidungku saat dia mendekat. Dia masih seperti dulu. Ramah dan murah senyum.
             
Kemarin dia bilang akan pulang. Dan jika sempat, dia akan ke sini untuk membantuku belajar. Maka, seperti yang dulu-dulu. Aku akan menyiapkan ribuan pertanyaan, agar dia berbicara banyak-banyak. Juga, agar dia lebih lama duduk di sampingku. Berpura-pura tidak tahu, maka, ia akan menjelaskan banyak hal. Membicarakan sesuatu yang kutanyakan, dengan selingan canda. Diiringi gestur tangannya demi mempermudahku untuk mengerti. Dan aku selalu menyukai itu. Terkadang, aku bertanya lagi, lalu dia menggaruk kepala sebentar—memikirkan cara lain untuk menerangkan.

Rabu, 27 Januari 2016

Sebaiknya, Kamu Tetap (Tak) Peduli



Harusnya ini jadi sore yang membahagiakan. Aku sudah memperhitungkannya semenjak kita masih berbagi meja. Ketika kamu disuruh memilih nomor punggung untuk pertandingan sepak bola antar kelas, sore ini. Aku segera menghitung kalender, kurang berapa minggu setelah hari itu. Apalagi, kamu menyebut nomor punggung pemain bola favoritku. Kamu memilih nomor itu, membuatku kian bersemangat menunggu sore ini. Aku harus berfoto denganmu yang memakai nomor itu. Harus. Sebagai teman sebangku, tentu saja.
             
Tapi sepertinya hal itu berantakan. Beberapa hari mendekati pertandingan, kamu justru menjauh. Karena pengakuan tempo hari. Ketika aku baru tahu ternyata kamu tahu. Tentang perasaan itu. Tentang sesuatu yang aku sendiri masih ragu. Saat kamu berkata ‘Sebaiknya, jangan’ lalu mengambil tas dan memindahnya. Mengganti teman sebangku sekenanya. Egois. Tak peduli. Tak lagi berbagi meja.
            

Kamis, 31 Desember 2015

Sampai Jumpa



Bagaimana 2015?
            
 Jika dibanding 2014, tahun ini adalah tahun yang biasa. Tentu saja, karena 2014 menyimpan nama Bayu Gatra. Satu-satunya idola yang dapat kujumpai, dan itu secara kebetulan.
             
Namun, jika dipikir ulang, tahun 2015, adalah tahun yang luar biasa. Sebenarnya, tak luput dari patah hati. Pahitnya merelakan dan melepaskan satu nama, yang terukir dengan baik di tahun sebelumnya. Bukan, nama ini bukan Bayu Gatra. Tapi, seseorang, yang demi keamanan privasinya, dan statusku si Pejatuh Cinta Diam-diam, nama orang itu tak akan kusebut di sini.

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini