Minggu, 14 Juni 2015

Aku Juga Minta Maaf




Maafkan, Mas, bukan maksudku mengabaikanmu. Perlu kamu tahu, aku tidak sekeji itu. Aku tidak seperti yang kamu ceritakan dalam tulisan itu. Mengenai aku berteriak-teriak menyemangati si pemain pertama itu, tak lain karena dia adalah kakak kelasku di sekolah dulu, wakil negara pula. Memang benar, aku mengidolakannya. Tapi sungguh, bukan karena alasan apapun. Hanya karena dia kakak kelasku. Sumpah, itu saja. Bukankah kamu sendiri sudah tahu, kepada siapa hatiku berlabuh?

Jumat, 12 Juni 2015

Maafkan Aku Karena Ini Untukmu



Aku sedikit picik memang. Menyangkutpautkan dirimu dalam permainanku. Tapi kupikir, itu sah-sah saja dalam bulutangkis. Tak ada ketentuan motivasi memenangkan pertandingan adalah untuk apa dan siapa. Jujur, ini bukan untuk diriku atau untuk negara. Tekadku untuk menang, adalah untukmu. Untuk menarik sedikit saja perhatianmu yang seluruhnya kamu curahkan kepada teman setimku. Iya, yang sekarang mengelu-elukan namaku, dan memelukku berkali-kali. Bocah 18 tahun itu, mengucap terima kasih bertubi-tubi padaku, karena telah menyelamatkan wajah satu regu. Bukannya sombong, tapi aku yang dipilih pelatih untuk bermain paling akhir, sebagai penentu kemenangan pula. Sedangkan orang yang kamu puja itu? Bermain pertama kali, tapi bukan dia pengumpul poin pertama. Sempat menurunkan mental satu regu, kamu tahu?

Kamis, 11 Juni 2015

Terima Kasih, Tuan



Terima kasih untuk tetap peduli. Terima kasih untuk masih perhatian. Terima kasih karena tak mengurangi kebaikan. Terima kasih tak menjauhiku, bahkan berpura-pura tidak tahu, sehingga tak membuatku teramat canggung. Terima kasih untuk tetap di sini, menjadi temanku. Terima kasih untuk tak menyuruhku membunuh perasaan yang lancang ini. Terima kasih, Tuan.
             
Aku beruntung mengenalmu. Dengan segala kebaikanmu, aku tidak menyesal telah jatuh hati padamu. Meskipun, ada wanita lain yang lebih beruntung dariku, yang mampu merenggut perhatianmu. Tak apa, aku cukup bersyukur, karena dengan mengenalmu, aku tahu arti ‘cinta tak perlu memiliki’.
            
 Aku berusaha untuk tahu diri, bahwa aku hanya temanmu. Dari sekian banyak pertemuan, memang aku yang terlalu menutup diri. Berpura-pura diam dan tak melihat kehadiranmu. Aku kelewatan memang, tapi itu tanpa sengaja kulakukan, karena takutku secara refleks memproteksi perasaan yang memenuhi rongga hati ini agar tidak menerobos keluar dan akhirnya sampai padamu. Sampai kepadamu pun tak masalah, yang jadi masalah adalah jika kamu menjauh. Hanya itu.
            
 Jadi, aku mohon, biarlah seperti ini. Tetaplah seperti ini. Aku mohon, biarkan. Aku tahu, kamu sudah tahu mengenai hal ini. Meski aku selalu berharap, jikapun aku sedang promosi blog, dan kebetulan melewati beranda facebookmu, itu tak membuatmu membaca tulisan-tulisanku. Karena, sebelum kamu meminta menuliskan cerita tentangmu pun, kisahmu sudah banyak menghuni blog. Hanya aku samarkan, karena sekali lagi, aku takut jika kamu tahu kemudian menjauh.
             
Aku tahu kamu sudah tahu. Aku tahu kamu hanya berpura-pura tidak tahu. Jadi, terima kasih atas kepura-puraanmu yang membuat hatiku tidak kentara sakitnya. Terima kasih untuk tidak menjauh. Terima kasih untuk tidak mengotak-atik perasaanku. Terima kasih karena cinta yang bertepuk sebelah tangan ini, tidak kamu pandang sebelah mata. Terima kasih, Tuan.



           
 .......Aku berpura-pura tidak tahu jika kamu sudah tahu, dan kamu berpura-pura tidak tahu dengan perasaanku. Semoga, aku dan kamu tidak lelah dengan kepura-puraan. Tetaplah seperti ini. Berpura-pura, sampai aku dan kamu lupa jika sedang berpura-pura.....

Jumat, 22 Mei 2015

Setelah Aku Memilih Pergi



Merindukanmu di malam-malam seperti ini, sebenarnya sudah biasa kulakukan. Lalu, tanganku tergerak untuk kembali menekunimu melalui dunia maya. Kadang-kadang tersenyum melihat fotomu yang terlihat kocak dengan kaos warna favoritmu yang belum berubah dari dulu: biru. Yang berubah adalah, kamu sekarang sibuk dengan group musikmu yang karirnya semakin menanjak, dan aku yang sekarang sibuk belajar, pengayaan, dan les. Selain itu, semuanya masih sama. Kamu yang di sana, dan aku yang di sini. Tak pernah satu, meskipun tak pernah terlibat pertengkaran satu pun.
            
 Tak pernah aku menanyakan kabarmu. Apakah kamu baik-baik saja setelah aku memilih pergi dari hidupmu karena aku pikir, kamu tak akan menangis hanya karena aku sudah tak berada di sampingmu. Bukankah, selama ini aku tak berarti bagimu? Untuk apa kamu mencariku, jika saat aku masih berada di depanmu, kamu tak menampakkan hal spesial satu pun? Bukankah itu tandanya aku sama sekali tak istimewa di hidupmu? Tak perlu, kan, aku berharap tinggi-tinggi?

Sabtu, 09 Mei 2015

Hai, Selamat Bertemu Lagi



Baiklah, ini salah saya. Saya yang mengharapmu kembali, tapi setelah kamu datang lagi, saya membiarkanmu pergi. Ya, ini salah saya. Sama sekali kamu tak perlu merasa resah atau bersalah karena ini. Kamu tak ada sangkut pautnya dengan kesalahan ini. Bukan kamu yang salah, tapi aku. Aku yang patut disalahkan.
            
 Selama ini, aku selalu mencarimu, kabarmu, ceritamu, kisahmu, semua tentang kamu. Bukan sekedar kamu baik-baik saja, tapi juga sedang bersama siapakah kamu sekarang. Aku tak mau munafik dengan mengatakan aku akan baik-baik saja asal kamu bahagia walaupun bersama orang lain entah siapa. Aku sakit, sangat sakit, mengetahui kamu telah menjalin hubungan entah dengan wanita mana. Aku mengaku bahagia ketika kabar terbaru darimu, bahwa kamu sudah tak lagi menjalin hubungan dengan wanita itu, kamu lebih memilih fokus dengan karirmu. Aku tak bisa bohong; aku sangat bahagia dengan hal itu.

Sabtu, 18 April 2015

Untukmu, True Blue



Pacitan, 16 April 2015. 16:56.

Hai, selamat siang menjelang sore, kamu. Boleh, kan, aku mengingat lalu merindukanmu lagi? Ya, memang, cukup sering aku melakukan ini. Dan aku tak akan mohon izin untuk sekali ini, karena sepertinya, mengingat dirimu tak hanya sekali dua kali. Bisa dalam ratusan kali.
            
 Ngomong-ngomong, masih ingatkah kamu kepada gadis yang mampu menebak hobimu tanpa dia bertanya atau kamu beritahu lebih dulu? Masih ingatkah kamu kepada gadis yang suka sekali menonton sepak bola sampai-sampai kautanyai jadwal pertandingan klub favoritmu? Aku tahu kesibukanmu kala itu, sampai aku rela mencatat jadwal tanding salah satu klub yang bukan jagoanku. Iya, Chelsea. Waktu itu kamu tak sempat nonton tv, karena sibuk luar biasa dengan pekerjaanmu yang menguras tenaga. Nonton bola pun harus rela kamu kesampingkan. Dan waktu itu pula, kamu mengucap banyak-banyak terima kasih padaku karena telah memberi info yang tepat dan akurat, meski aku tahu, tentu dari banyak pertandingan yang aku kirim untukmu itu, hanya satu-dua yang kamu tonton.

Rabu, 08 April 2015

Tertanda, Satu Tahun yang Lalu




Hanya sebuah pesan singkat. Tanpa penjelasan. Yang mengantarku pada ujung penantian. Malam ini, Tuhan menjawab do’a. Memberiku kejutan. Membuka mata, otak, dan hatiku untuk pria yang berada di ujung sana. Yang namanya pernah kuselipkan dalam do’a setiap hari kepadaNya. Dan kali ini, melalui pemuda ini, aku tahu bagaimana “Pahitnya memperjuangkan cinta sendirian.”.

Aku pernah menertawakan kata-kata itu. Atau hanya mengeluarkan kata ‘kasihan’ kepada si pembuat kalimat itu. Tapi sayangnya, malam ini, aku yang membuat tulisan itu. Hanya karena kamu, Mas. Ujung do’a dan penantianku, kaujabarkan malam ini. Ketika aku sedang disibukkan dengan tugas akhir. Dibingungkan oleh program aplikasi edit film.

Lalu, kamu datang. Dari sepucuk surat bermedia elektronik. Entah, bagaimana caramu, mampu meredakan kebingunganku. Mampu melegakan otakku yang ruwet karena tugas akhir ini. Dan juga, melancarkan kinerja komputerku yang sempat kudiamkan karena aku tak tahu harus bagaimana. Kenapa harus kamu, Mas yang seolah jadi pahlawan? Masih banyak temanku yang lain, yang secara logis, lebih mungkin menolongku daripada sosok pemuda seperti kamu!

Sudah berapa kali kamu bilang padaku agar menjauh darimu? Sudah berapa kali pula kaumendekatiku dengan alasan hanya ingin berteman? Sepuluh kali? Berpuluh kali? Ah. Selalu saja kaumengelak. Kaubilang jika aku yang terlalu keras kepala. Jika aku yang berusaha menghindari itikad baikmu. Pokoknya, aku yang kausalahkan. Lantas, untuk apa kaumemintaku menjauh jika pada akhirnya kaumendekatiku lagi? Untuk apa kaumendekatiku jika pada ujungnya kauhanya memintaku untuk jadi ‘tong sampah’mu? Salahkah aku, jika mengatakan bahwa kaudatang hanya saat kaubutuh?

Kaumemang tak pernah memintaku untuk mencintaimu. Aku juga tak pernah mau rasa ini melingkupi hidupku, Mas. Aih, Cinta? Padamu? Jika aku bisa, aku pasti menolaknya, Mas. Jangan dikira, setiap tulisanku, statusku, tweetku, hanya untukmu. Jangan dikira, aku masih berkutat dalam pikiran tentangmu. Jangan dikira, aku tak berusaha menghilangkan rasa yang kurasa absurd ini.

Mungkin, kamu, pria di ujung sana, yang malam ini sempat mengirimkan pesan singkat, berperan sebagai pahlawan, tanpa berpikir bagaimana dampak kehadiran tiba-tibamu padaku. Dan tulisan ini, hanya secuil dari bagian kenangan yang kembali kautoreh dalam hidupku. Yang mungkin, setelah kaubuat tawaku tergerai malam ini, kaujuga akan membuat tangis entah kapan. Dalam nyata ataupun mimpi.

Ketika ujung penantian ini, berakhir pada kisah dejavu dalam cerita sambungku. “Ujung dari penantianku, kautak mencintaiku.”

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini