Ada sosok yang rindu padamu, Mas. Ada sosok yang sakit saat
mengingat beberapa potong memori tentang kenangan kalian. Ada sosok yang rindu
saat kamu datang ke rumahnya membawa setumpuk pertanyaan tentang pelajaran yang
tak kamu mengerti. Ada sosok yang rindu
pada kehadiranmu membawa berlembar-lembar cerita tentang kegiatanmu selama ini.
Ada sosok yang merindukan kata-katamu lebih dari dia merindukan kata-kata dari
sosok berarti lain di kehidupannya. Ada sosok yang rindu dengan permainan
favoritmu, monopoli. Apa kamu tidak merasa?
Jumat, 04 Oktober 2013
Kamis, 26 September 2013
Untuk Kamu, Orang Terdekatku
Dear kamu,
Bagaimana
kabarmu hari ini? Baik-baik saja, kan? Apakah ada kabar lain selain ’baik-baik’
saja? Semoga tidak.
Sabtu, 21 September 2013
Aneh
Lagi-lagi ada sepucuk surat dari wanita
yang menyukaimu dari jauh, secara diam-diam pula. Mungkin, kau bosan membaca
surat yang memang tak pernah kau baca ini. Aku pun juga bosan dengan perasaan
rindu yang sering menghantuiku. Rindu ini selalu mengikutiku saat kamu tidak
berada di sampingku. Aneh.
Sabtu, 14 September 2013
Gantungan Kunci
Teng
.. teng .. teng ..
Bel istirahat berbunyi. Namun, murid
– murid kelas VI-A SD Harapan Bangsa belum keluar kelas. Di kelas tampak
Nina yang sedang membagikan sebuah
undangan ulang tahun. Nina adalah anak orang kaya. Mungkin wajar baginya bila
setiap ulang tahun selalu dirayakan dengan meriah.
Selasa, 10 September 2013
Hambar (Tanpa Rasa)
Rasa ini terasa hambar saat Tuhan mengirimkan
rencananya untuk membuatku berhenti menyukaimu. Dia membuat ketidaksengajaanku
membuka akun jejaring sosialmu. Memastikan kabar burung yang beterbangan liar
di sekitarku tentangmu. Aku tak tahu, magnet apa yang menggerakkan jari-jariku
di atas keyboard untuk mengetikkan nama kekasihmu. Atau orang yang saat itu
belum kutahu sebagai kekasihmu.
Status-status yang ada
di akun kekasihmu aku baca satu per satu. Di bawah statusnya, ada seseorang
yang mengomentari. Dan, nama akun itulah yang menggelitik rasa penasaranku
untuk mencari tahu. Satu nama yang mirip denganmu, dan ternyata itu memang akun
milikmu. Insting detektifku mulai bekerja. Mengamati setiap kata yang tertera pada status-status jejaring sosialmu.
Pandanganku terhenti pada status hubunganmu. Seandainya aku tak bisa membaca,
mungkin aku tidak sesedih ini. Bahkan, tetap saja bahagia karena dapat melihat
wajahmu melalui foto yang kau unggah. Sayangnya, aku tidak buta huruf! Aku
dapat membaca status ‘berpacaran’mu dengan dia.
Ingatanku mulai merambah
menuju beberapa bulan lalu. Saat aku pertama kali mengenalimu. Namamu yang
mirip dengan seseorang yang pernah kuharapkan dulu, membuatku
mengistimewakanmu. Wajahmu, sama sekali tidak mirip dengan dia. Tapi, entah
kenapa, kamu sama seperti dia dulu. Mampu membuatku tersenyum. Bedanya, kamu
lebih ganteng dari dia. Aku juga belum tahu sifat kamu. Yang kutahu, kamu
adalah seseorang yang menimba ilmu di lembaga yang sama denganku.
Rasa ini hambar saat aku
menyadari status kita sama. Sebagai pelajar. Tapi, kita beda. Kamu (mungkin)
setia dengan kekasih barumu, dan aku setia dengan cerita-cerita indah
tentangmu. Kamu tidak memperhatikanku. Kamu tidak mempedulikanku. Aku
menyukaimu dari jauh, secara diam-diam pula. Hingga tak banyak yang tak tahu
aku menyukai siapa. Kamu atau orang lain.
Kamu tidak pergi. Kamu
tidak hilang. Tapi, kesempatanku mendapatkanmu yang pergi dan hilang. Setelah
aku tahu, kamu sudah ada yang punya. Lagi-lagi, aku harus menunggu kesempatan
itu hadir kembali. Kesempatan yang mungkin tak akan pernah kudapat. Rasa ini memang
hambar.
Sabtu, 07 September 2013
Kecewa
Waktu baru berputar kurang
lebih 24 jam. Tapi, secepat itu kamu menghempaskanku jatuh ke dasar bumi. Setelah
kemarin, kamu melambungkanku jauh ke angkasa. Rasanya sakit. Rasa sakit ini
hanya mampu kutelan dalam-dalam. Aku tak berani mengungkapkan perasaan ini
padamu. Karena apa? Karena aku takut, jika kamu malah menjauh karena merasa canggung.
Rabu, 04 September 2013
Setelah 5 Minggu
Awal setelah 5 minggu
tak ada lisan yang terucap di antara kita. Pagi ini, kita kembali
bercengkerama, bercanda, dan lagi-lagi 1 pernyataan yang diam-diam membuat
nyeri di sekitar ulu hati, namun membuat pipiku memerah. “Aku belum benar-benar
mampu melupakan perasaan ini.”
Langganan:
Postingan (Atom)
Kamu Harus Baca Ini
#SWORDS's After Story
Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini. Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...
Banyak yang Baca Ini
-
Sudah sejak tadi pagi aku tak sabar ingin segera malam. Karena kemarin, abangku bilang, dia akan pulang, dan membawa banyak...
-
“Nggak dilanjutin belajar matematikanya?” “Ehm, ha? Belajar?” lalu pandangan gadis itu beralih pada lembaran kertas tercoret angka, t...
-
Sahabatku baru saja bercerita tiga menit tanpa jeda. Tentang salah seorang pemuda yang buatnya melayang-layang tak berdaya. Pemuda yang...


