Aku tahu aku tidak
punya hak mengatur hidupmu. Mengurusi ini-itu, termasuk membangunkanmu supaya
tidak melewatkan subuh. Aku tidak berhak marah-marah karena kamu hanya sebentar
membaca pesan dariku, membalas sekadarnya, untuk kemudian lenyap yang tidak aku
tahu kamu ke mana. Aku tahu bahwa kamu tidak punya kewajiban melapor kepadaku
akan melakukan apa, ke mana, dan sedang bersama siapa dalam kurun waktu 24 jam.
Kamis, 13 April 2017
Senin, 27 Maret 2017
Aku Bicara Soal Rindu
Aku rindu.
Mungkin bagimu sepele. Tapi bagiku,
rindu masuk ke dalam salah satu hal paling menyebalkan di dunia. Bisa
menimbulkan uring-uringan tidak jelas, menghapus rasa lapar, serta mampu
melenyapkan senyum yang terpasang di wajah sepanjang hari. Dan rindu akan semakin
menyiksa ketika tidak ada satu orang pun yang berusaha memahami bahwa yang
dibutuhkan si perindu hanyalah pertemuan. Setidaknya ada perasaan simpati atau
aku akan dengan senang hati menerima saran dia demi mengusahakan pertemuan,
bukan cuma kata: sabar ya, sabar.
Hei, rindu tidak bisa lenyap hanya
karena baru saja mendengar kata sabar ya. Jadi, tolong, jika tidak ada satu pun
yang paham betapa beratnya merindukan seseorang, tidak perlu sok-sokan simpati,
mengelus-elus punggung, dan berceramah soal sabar. Aku sudah kenyang. Apalagi
janji-janji soal seseorang yang ingin aku temui setiap detik, akan pulang
beberapa hari lagi. Seseorang yang dua bulan lalu bilang akan pulang dan
memberiku banyak oleh-oleh, padahal aku hanya ingin bertemu dengan dia. Mungkin
jika waktu dapat diputar, dua bulan lalu aku tidak akan berteriak kegirangan
mendengar dia yang akan memberiku banyak buah tangan. Aku pasti akan bilang
bahwa aku hanya rindu—ingin bertemu dia—bukan meminta oleh-oleh satu truk
sementara dia masih ada di sana, jauh di seberang samudra.
Aku rindu.
Tapi tidak ada satu orang pun yang
paham betapa aku iri kepada diriku sendiri yang berada dalam foto-fotoku yang
terpajang di meja. Diriku sendiri yang bisa memeluk orang yang aku rindukan
sekarang, selamanya. Beku dalam fotografi. Sementara aku di sini, pada detik
ini, cuma bisa bengong, karena orang yang sedang aku peluk dalam foto itu entah
sedang apa di seberang sana. Aku cuma bisa rindu, tapi tidak ada satu orang pun
yang tahu betapa aku membenci perasaan ini.
Aku hanya ingin bertemu.
Hanya itu.
Dan hanya kepada samudra aku merasa
sedikit lebih dekat kepada dia yang aku rindukan. Samudra yang tidak pernah
bertanya mengapa aku uring-uringan sepanjang hari dua bulan terakhir. Samudra
yang selalu tahu alasan kenapa senyumku jarang muncul dua bulan terakhir.
Samudra yang tidak pernah mengatakan, “Sabar,” juga tidak pernah mengumbar
janji bahwa dia akan pulang sebentar lagi. Hanya samudra yang mampu berbicara
soal badai, ombak, angin, persis seperti dongeng-dongeng pengantar tidur dari
orang yang aku rindukan. Hanya kepada samudra, aku merasa suatu hal menyebalkan
bernama rindu ini, dapat teratasi.
Sebelum aku bertemu seseorang, yang
membuatku berpikir dua kali, apakah rindu yang melanda kepalaku ini lebih
penting daripada toleransi dan keutuhan NKRI. Seseorang yang bernama ..... klik di sini
Jumat, 24 Maret 2017
T(h)e-Man.
“Ya, namanya juga teman,”
Barangkali menjadi satu-satunya
alasan supaya aku dapat memenuhi kotak masuk ponselmu buat minta referensi
lagu, film, novel, video-video lucu, dan apapun, sampai nama kamu selalu
menjadi pemuncak dalam kolom ‘Sering Dihubungi’. Mungkin jika ada kolom ‘Sering
Dirindukan’, nama kamu juga ada di urutan teratas. Hehe, gombal ya? Tapi aku
serius. Termasuk perasaan sialan yang aku pikir hanya sementara ini, ternyata
sampai sekarang dia masih ada dan sampai sekarang kamu belum tahu.
Minggu, 18 Desember 2016
Sedang Dalam Proses Melupakan
“Sabtu
nanti, nonton yuk!” ujarnya di telepon.
“Ha? Nonton apa?” tanyaku dengan
otak yang belum tersambung dengan nyawa—akibat dari bangun secara mendadak,
gara-gara luput tidak mengatur ponsel dengan mode pesawat—dan entah kenapa
orang itu tiba-tiba telepon jam setengah dua belas malam begini.
“Ada pemutaran ulang film bagus.
Tiketnya gratis!” dia menjawab antusias. Aku mengerutkan kening.
“Gratis?” aku bertanya, meragukan
indera pendengaranku dalam keadaan nyawa baru terisi separuh seperti ini.
“Iya, gratis. Mau?”
Jumat, 07 Oktober 2016
Perasaan dan Kamu
Ternyata
perasaan itu masih bersemayam. Ternyata selama ini ia hanya duduk tenang,
menunggu sesuatu untuk menyulutnya, dan ia akan bertingkah. Menggelora seenak
jidat. Membuat nafsu makan menurun, tidak ada semangat, menyurutkan senyum dan
tawa, serta mengusir sebagian besar selera untuk bercanda. Dia benar-benar
jahat. Atau setidaknya, malam ini aku merasa dia begitu jahat. Tiba-tiba
bangkit dari ketenangannya selama ini, dan mengobrak-abrik tatanan hatiku yang
sempat mati-matian aku rapikan sedemikian rupa.
Sabtu, 01 Oktober 2016
Kembalilah Seperti Dulu
Kamu jangan
berubah, bagaikan avatar yang padahal sedang dibutuhkan dunia. Meskipun kamu
bukan avatar, dan dunia belum membutuhkan kamu, tapi aku yang saat ini
membutuhkan kamu.
Bagaimanapun juga, kamu adalah
penghiburan yang tepat untuk segala keluh kesah. Hanya tawa kamu yang mampu
menenangkan sekaligus pemberi semangat yang mujarab. Tidak perlu kamu
mengajakku ke tempat di mana harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk
menyeduh cokelat panas, kamu hanya ke rumahku sambil tersenyum lebar, sudah
cukup untuk membuatku kembali tertawa. Biasanya kamu ke rumah memakai jaket baseball,
habis mandi, sehingga membuat wajahmu kelihatan segar, dan itu saja cukup
membangkitkan semangat baruku di hari itu. Kamu tidak pernah muluk-muluk untuk
menghiburku, karena sesederhana kamu datang ke rumah, adalah penghiburan yang
menyenangkan.
Jumat, 23 September 2016
Tidak Perlu Diberi Judul
Hai.
Eh, hai. Tumben sekali menyapa.
Sudah tidak sibuk?
Yah begitulah.
Bukannya kamu mau ikut event sebentar
lagi?
Hm, begitulah.
Oh, baiklah. Coba aku tebak. Kamu
pasti sedang patah hati sore ini. Ya, kan?
Langganan:
Postingan (Atom)
Kamu Harus Baca Ini
#SWORDS's After Story
Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini. Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...
Banyak yang Baca Ini
-
“Nggak dilanjutin belajar matematikanya?” “Ehm, ha? Belajar?” lalu pandangan gadis itu beralih pada lembaran kertas tercoret angka, t...
-
Sahabatku baru saja bercerita tiga menit tanpa jeda. Tentang salah seorang pemuda yang buatnya melayang-layang tak berdaya. Pemuda yang...
-
Malam ini, aku belajar satu hal dari percakapan antara kakakku dan orang tuaku. Ini terkait perjuangan kakakku yang harus mengorbankan ...