Kamis, 08 November 2018

Tentang Hujan


Aku masih menyukai hujan
Aroma rintiknya saat sentuh tanah
Udara yang dingin dan lembap
Genangan air di beberapa sudut jalan
Suasana segar yang langsung tercipta selepas ia reda

Aku masih menyukainya
Teramat sangat

Photo by Matthew Henry on Unsplash

Jumat, 02 November 2018

Kamu Harus Paham


Bukan bermaksud ingin menjadi perempuan yang banyak mau
Tapi dari sini, aku juga ingin tahu
Apakah selama ini yang berjuang hanya aku
Atau memang aku sendiri yang menutup mata dari segala usaha kamu
Salah?

Photo by Andrei Lazarev on Unsplash



Kamis, 11 Oktober 2018

Hanya Pernah


Duniaku pernah terpusat di kamu,
Segalanya tentang kamu
Tulisan-tulisanku untuk kamu
Sampai aku sadar bahwa banyak hal terlewat,
Tentang pertemanan; kesempatan-kesempatan untuk mewujudkan cita-cita
Semuanya hampir tertutup oleh kamu

Bagaimana kamu pernah bertanya padaku, apakah ada yang salah, ketika aku merasa dunia sedang tidak baik-baik saja
Bagaimana kamu pernah membantuku mengambilkan sesuatu di tempat yang tinggi—entah buku di rak perpustakaan, atau kardus dari atas lemari—tanpa bertanya dulu apakah aku butuh pertolongan

Photo by Radu Marcusu on Unsplash

Minggu, 09 September 2018

Halo


Soal telefon,
Aku harap kamu tahu,
bahwa aku hanya ingin bicara
bukan melepas rindu

Photo by Becca Tapert on Unsplash


Aku sedang butuh teman
Siapapun, yang bisa mendengarku
Menyimak ceritaku
Kalau kamu mau ingat, kamu pernah jadi salah satunya

Selasa, 04 September 2018

Dari Batas Jarak


Untuk segala yang tidak pernah benar,
Entah aku yang makin kenal kamu, atau aku yang berubah dan tidak lagi memahami kamu
Atau bisa jadi kamu yang semakin tidak mengerti apa mauku

Dari segala usaha yang pernah aku kerahkan demi kamu,
Mengikuti alur pikiran kamu,
Mencari pembenaran dari apa yang pernah kamu katakan,
Rasanya sekarang sia-sia
Kamu semakin jauh dan tidak terengkuh,
Sementara aku semakin ragu apakah langkahku masih berujung pada kamu

Photo by Brian Mann on Unsplash


Selasa, 14 Agustus 2018

Sesaat Lagi


            Kota kelahiran saya sedang mendung.
            
Ratusan bahkan ribuan memori seketika menyergap, menaklukkan saya agar tunduk dan patuh. Delapan belas tahun saya hidup, belum pernah saya mengilas balik secara khusus selama berada di kota ini. Kota tempat saya melihat dunia untuk pertama kali; sekaligus menyaksikan saya tumbuh dan berkembang hingga detik ini.

Photo by Scott Webb on Unsplash
 Sebentar lagi, tinggal menghitung hari, saya tidak di sini.

Jumat, 03 Agustus 2018

Tidak Ada Lagi


Kalau kamu bertanya apa kabar, dan aku hanya menjawab dengan senyuman, aku harap kamu mengerti bahwa aku belum baik-baik saja.

Sepeninggalmu, hidupku perlu pembiasaan untuk melakukan banyak hal tanpa kamu.

Tidak ada yang tiba-tiba menelepon ketika aku mulai menulis.

Tidak ada yang kabarnya aku tunggu di ujung hari.

Tidak ada yang sosoknya aku nanti di beranda rumah.

Tidak ada malam minggu yang biasanya aku habiskan dengan obrolan tidak penting.

Tidak ada yang meledekku kalau tim jagoan kalah.

Tidak ada yang mencibir tiap aku membangga-banggakan pemain bola idolaku.

Tidak ada yang meracuniku Via Vallen atau Nella Kharisma.

Tidak ada yang bercerita hantu.

Tidak ada senyum yang menenangkan.

Tidak ada bahagia yang ditawarkan.

Tidak ada lagi yang membagi pandangannya mengenai hidup.

Tidak ada kamu, membuat segalanya hampir limbung, seandainya kamu mau tahu.

Tidak ada kamu, kepada siapa lagi aku akan pamer kalau aku bukan penakut—mengikuti video rumah menyeramkan Raditya Dika yang sudah sampai part 3 tanpa aku skip? Hm?

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini