Kamu datang
seperti biasa. Memakai kemeja yang tidak kamu kancingkan, kaos warna biru yang
senada dengan kemejamu, sepasang sepatu yang sepertinya usai kamu cuci, jam
tangan hitam dengan merk yang sama meskipun sudah berganti-ganti model, juga
aroma parfum yang spontan menyambut hidungku ketika kamu menginjakkan kaki di
teras rumah.
Penampilanmu memang seperti biasa.
Tapi kamu terlambat lima menit.
Sebagai manusia yang selalu tepat
waktu, sekalipun hanya untuk mengunjungi rumahku, aku tahu bahwa di luar
kebiasaanmu ini, ada sesuatu yang patut menderingkan alarm di kepalaku.