Aku tahu, kamu
bukan Dilan, dan diriku bukan Milea. Tapi, tak apa kan, jika kisah kita di masa
abu-abu putih ini seperti mereka? Kamu memang bukan anak geng motor seperti
Dilan, dan aku juga tidak cantik seperti Milea. Tapi, jika aku dan kamu memberi
sedikit warna di masa abu-abu putih ini, siapa tahu kisah kita akan abadi
seperti mereka? Ya, meskipun aku tahu bahwa ujungnya, Dilan dan Milea tidak
bersama. Aku juga sangat tahu, kamu bukan tipe orang yang ingin melakukan
pekerjaan sia-sia—untuk apa berjuang sedemikian rupa jika pada akhirnya tidak
akan bersama?
Sabtu, 30 April 2016
Minggu, 10 April 2016
Setelah Kembali ke Peredaran
"Kamu darimana saja, Arez? Sudah lama tidak datang ke sini. Kamu baik-baik, kan? Tidak
sakit?" Google+ memberondongku dengan pertanyaan, padahal kakiku baru
menginjak beranda. Aku tersenyum tipis.
"Aku
baik-baik saja," jawabku.
Google+ masih
menatapku cemas. Seperti tak yakin dengan jawabanku, Google+ menempelkan
tangannya di dahiku. Aku mengernyit.
"Oh,
syukurlah. Aku kira kamu demam," kata Google+ sambil menurunkan tangannya
dari dahiku. Sesaat kemudian, beliau tersenyum lebar. "Mari, mari masuk!
Aku punya suguhan baru untukmu!" ajaknya seraya mendorongku masuk.
Benar saja.
Saat aku memasuki rumahnya, aku terpukau. Jauh, jauh berbeda dari terakhir aku
menginjakkan kaki di sini. Meskipun selera Google+ masih sama, namun, benda-benda
yang dipilih untuk mengisi ruangan, membuat rumah ini selama sekian detik,
tidak aku kenali. Mungkin, karena pernak-pernik yang terpasang adalah sesuatu
yang lebih modern? Lebih baru?
Minggu, 31 Januari 2016
Intuisi
Akhirnya dia
benar-benar datang. Tersenyum lebar sambil menenteng tas. Wajahnya terlihat
segar habis mandi. Dan benar saja. Aroma wangi yang aku tahu bukan produk
parfum, menyambut hidungku saat dia mendekat. Dia masih seperti dulu. Ramah dan
murah senyum.
Kemarin dia bilang akan pulang. Dan
jika sempat, dia akan ke sini untuk membantuku belajar. Maka, seperti yang
dulu-dulu. Aku akan menyiapkan ribuan pertanyaan, agar dia berbicara
banyak-banyak. Juga, agar dia lebih lama duduk di sampingku. Berpura-pura tidak
tahu, maka, ia akan menjelaskan banyak hal. Membicarakan sesuatu yang
kutanyakan, dengan selingan canda. Diiringi gestur tangannya demi mempermudahku
untuk mengerti. Dan aku selalu menyukai itu. Terkadang, aku bertanya lagi, lalu
dia menggaruk kepala sebentar—memikirkan cara lain untuk menerangkan.
Rabu, 27 Januari 2016
Sebaiknya, Kamu Tetap (Tak) Peduli
Harusnya ini
jadi sore yang membahagiakan. Aku sudah memperhitungkannya semenjak kita masih
berbagi meja. Ketika kamu disuruh memilih nomor punggung untuk pertandingan
sepak bola antar kelas, sore ini. Aku segera menghitung kalender, kurang berapa
minggu setelah hari itu. Apalagi, kamu menyebut nomor punggung pemain bola
favoritku. Kamu memilih nomor itu, membuatku kian bersemangat menunggu sore
ini. Aku harus berfoto denganmu yang memakai nomor itu. Harus. Sebagai teman
sebangku, tentu saja.
Tapi sepertinya hal itu berantakan.
Beberapa hari mendekati pertandingan, kamu justru menjauh. Karena pengakuan
tempo hari. Ketika aku baru tahu ternyata kamu tahu. Tentang perasaan itu.
Tentang sesuatu yang aku sendiri masih ragu. Saat kamu berkata ‘Sebaiknya,
jangan’ lalu mengambil tas dan memindahnya. Mengganti teman sebangku sekenanya.
Egois. Tak peduli. Tak lagi berbagi meja.
Kamis, 31 Desember 2015
Sampai Jumpa
Bagaimana 2015?
Jika dibanding 2014, tahun ini
adalah tahun yang biasa. Tentu saja, karena 2014 menyimpan nama Bayu Gatra.
Satu-satunya idola yang dapat kujumpai, dan itu secara kebetulan.
Namun, jika dipikir ulang, tahun
2015, adalah tahun yang luar biasa. Sebenarnya, tak luput dari patah hati.
Pahitnya merelakan dan melepaskan satu nama, yang terukir dengan baik di tahun
sebelumnya. Bukan, nama ini bukan Bayu Gatra. Tapi, seseorang, yang demi
keamanan privasinya, dan statusku si Pejatuh Cinta Diam-diam, nama orang itu
tak akan kusebut di sini.
Selasa, 22 Desember 2015
Abnormal
Sahabatku
baru saja bercerita tiga menit tanpa jeda. Tentang salah seorang pemuda yang
buatnya melayang-layang tak berdaya. Pemuda yang tampan dan baik hati dari
esktrakurikuler voli. Satu-satunya pemuda yang memperhatikannya. Tidak seperti
pemuda lain yang memilih tak acuh padanya. Sesekali menyapa, atau tersenyum
padanya. Sering membagi-bagikan camilan buatan ibunya kepada manusia seluruh
ekstra. Kata sahabatku, camilan berbahan dasar tepung terigu, telur, mentega,
dan susu itu, enak bukan main.
Sayangnya,
akhir-akhir ini, pemuda baik hati itu semakin baik. Dan itu membuat sahabatku
terbang makin tinggi. Kuperingatkan agar tak jauh-jauh ke langit, tapi
sahabatku berkeras. Pemuda baik hati itu bukan sekadar baik. Mungkin saja telah
jatuh hati padanya—sama seperti yang dirasakan sahabatku. Aku pun hanya
tersenyum menanggapi ocehan sahabatku. Pilih tak berkomentar.
Aku menanggapi
ceritanya dengan tertawa kecil, lalu menanyakan kelanjutan kisah seru mereka. Sahabatku
menjawab dengan mengisahkan kembali cerita yang dulu, masih dengan semangat
yang sama, nada menggebu-gebu yang sama, hanya kata-katanya yang sedikit
berubah. Aku kembali tersenyum. Pemuda itu benar-benar terlihat baik di mata
sahabatku. Hampir tanpa cela. Menyaingi malaikat.
Jumat, 11 Desember 2015
Sebaiknya, Kamu Tetap Tak Peduli
Bukankah selama
ini baik-baik saja?
Duduk di sampingku. Menulis satu
meja denganku. Memandang papan tulis dari sudut yang sama. Tertiup angin sepoi
dari jendela yang sama. Terkadang tangan kita bersaling-silang karena mengambil
sesuatu yang letaknya di sebelahku atau sebelahmu. Sering sekali kamu meminjam
entah bolpoin, entah pensil, hanya untuk berpura-pura mencatat penjelasan guru.
Lebih sering lagi aku yang mengamatimu diam-diam ketika kamu meletakkan kepala
di meja sambil mencoret-coret tidak jelas di buku catatanmu. Dan ketika bel
istirahat berdering, sontak kepalamu terangkat, tubuhmu langsung tegak. Matamu
berbinar-binar.
Langganan:
Postingan (Atom)
Kamu Harus Baca Ini
#SWORDS's After Story
Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini. Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...
Banyak yang Baca Ini
-
Sudah sejak tadi pagi aku tak sabar ingin segera malam. Karena kemarin, abangku bilang, dia akan pulang, dan membawa banyak...
-
“Nggak dilanjutin belajar matematikanya?” “Ehm, ha? Belajar?” lalu pandangan gadis itu beralih pada lembaran kertas tercoret angka, t...
-
Sahabatku baru saja bercerita tiga menit tanpa jeda. Tentang salah seorang pemuda yang buatnya melayang-layang tak berdaya. Pemuda yang...