Rabu, 27 Januari 2016

Sebaiknya, Kamu Tetap (Tak) Peduli



Harusnya ini jadi sore yang membahagiakan. Aku sudah memperhitungkannya semenjak kita masih berbagi meja. Ketika kamu disuruh memilih nomor punggung untuk pertandingan sepak bola antar kelas, sore ini. Aku segera menghitung kalender, kurang berapa minggu setelah hari itu. Apalagi, kamu menyebut nomor punggung pemain bola favoritku. Kamu memilih nomor itu, membuatku kian bersemangat menunggu sore ini. Aku harus berfoto denganmu yang memakai nomor itu. Harus. Sebagai teman sebangku, tentu saja.
             
Tapi sepertinya hal itu berantakan. Beberapa hari mendekati pertandingan, kamu justru menjauh. Karena pengakuan tempo hari. Ketika aku baru tahu ternyata kamu tahu. Tentang perasaan itu. Tentang sesuatu yang aku sendiri masih ragu. Saat kamu berkata ‘Sebaiknya, jangan’ lalu mengambil tas dan memindahnya. Mengganti teman sebangku sekenanya. Egois. Tak peduli. Tak lagi berbagi meja.
            

Kamis, 31 Desember 2015

Sampai Jumpa



Bagaimana 2015?
            
 Jika dibanding 2014, tahun ini adalah tahun yang biasa. Tentu saja, karena 2014 menyimpan nama Bayu Gatra. Satu-satunya idola yang dapat kujumpai, dan itu secara kebetulan.
             
Namun, jika dipikir ulang, tahun 2015, adalah tahun yang luar biasa. Sebenarnya, tak luput dari patah hati. Pahitnya merelakan dan melepaskan satu nama, yang terukir dengan baik di tahun sebelumnya. Bukan, nama ini bukan Bayu Gatra. Tapi, seseorang, yang demi keamanan privasinya, dan statusku si Pejatuh Cinta Diam-diam, nama orang itu tak akan kusebut di sini.

Selasa, 22 Desember 2015

Abnormal



Sahabatku baru saja bercerita tiga menit tanpa jeda. Tentang salah seorang pemuda yang buatnya melayang-layang tak berdaya. Pemuda yang tampan dan baik hati dari esktrakurikuler voli. Satu-satunya pemuda yang memperhatikannya. Tidak seperti pemuda lain yang memilih tak acuh padanya. Sesekali menyapa, atau tersenyum padanya. Sering membagi-bagikan camilan buatan ibunya kepada manusia seluruh ekstra. Kata sahabatku, camilan berbahan dasar tepung terigu, telur, mentega, dan susu itu, enak bukan main.

Sayangnya, akhir-akhir ini, pemuda baik hati itu semakin baik. Dan itu membuat sahabatku terbang makin tinggi. Kuperingatkan agar tak jauh-jauh ke langit, tapi sahabatku berkeras. Pemuda baik hati itu bukan sekadar baik. Mungkin saja telah jatuh hati padanya—sama seperti yang dirasakan sahabatku. Aku pun hanya tersenyum menanggapi ocehan sahabatku. Pilih tak berkomentar.

Aku menanggapi ceritanya dengan tertawa kecil, lalu menanyakan kelanjutan kisah seru mereka. Sahabatku menjawab dengan mengisahkan kembali cerita yang dulu, masih dengan semangat yang sama, nada menggebu-gebu yang sama, hanya kata-katanya yang sedikit berubah. Aku kembali tersenyum. Pemuda itu benar-benar terlihat baik di mata sahabatku. Hampir tanpa cela. Menyaingi malaikat.

Jumat, 11 Desember 2015

Sebaiknya, Kamu Tetap Tak Peduli



Bukankah selama ini baik-baik saja?
             
Duduk di sampingku. Menulis satu meja denganku. Memandang papan tulis dari sudut yang sama. Tertiup angin sepoi dari jendela yang sama. Terkadang tangan kita bersaling-silang karena mengambil sesuatu yang letaknya di sebelahku atau sebelahmu. Sering sekali kamu meminjam entah bolpoin, entah pensil, hanya untuk berpura-pura mencatat penjelasan guru. Lebih sering lagi aku yang mengamatimu diam-diam ketika kamu meletakkan kepala di meja sambil mencoret-coret tidak jelas di buku catatanmu. Dan ketika bel istirahat berdering, sontak kepalamu terangkat, tubuhmu langsung tegak. Matamu berbinar-binar.

Jumat, 27 November 2015

Di Ujung Persimpangan



            Hai, Tuan, bagaimana kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja. Tersenyum ramah seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa terhadapmu sebelumnya. Ah, ya, tentu saja kamu dapat bertingkah tak terjadi apa-apa. Karena guncangan paling hebat terjadi padaku, bukan kamu. Kamu tentu tak menangis berhari-hari dan menyesal berbulan-bulan perihal kisah kita. Aku tahu, bukan maksudmu untuk tidak peduli. Aku juga tahu, bukan karena kamu dapat dengan mudah berpindah ke lain hati.
             
Ah, maafkan. Baru pembukaan dari tulisan ini, aku seolah menyudutkanmu. Bukan, bukan. Bukan tentang kamu yang sukses move on. Bukan pula tentang kemalanganku yang gagal move on.
             
Asal kamu tahu, ternyata banyak yang menanyakan kelanjutan kisah kita. Sungguh, aku tak menyangka ternyata ada yang mengikuti perjalanan kita. Yah, jika bisa disebut perjalanan, berarti jalan yang kita lalui bercabang, atau memang buntu, dan susah seharusnya kita berhenti, kembali, atau meneruskan perjalanan. Sayangnya, kita punya dua pendapat berbeda. Memang sama-sama ingin berjalan, tapi kamu ingin melangkah ke kiri, sedangkan aku memilih ke kanan. Kita sama-sama keras kepala, menguatkan ego.

Sampai kita memutuskan meletakkan hubungan kita di persimpangan jalan, lalu berjalan menuju jalan yang aku dan kamu ingini. Aku ke kanan, dan kamu ke kiri. Dan entah kamu tahu apa tidak, di tengah perjalanan, aku menyesal mengapa tak meredam keinginanku. Karena melalui hari yang biasanya ada yang mendampingi, tapi sekarang harus sendiri, adalah sesuatu hal yang baru sekarang aku sadari, terasa pincang dan sepi. Biasanya jika aku merasa lelah, ada kamu yang memberi sandaran saat aku beristirahat. Dan aku harap kamu masih ingat ketika kamu putus asa, ada aku yang memberi semangat. Bukankah waktu itu kita saling melengkapi? Tapi mengapa semudah itu kita memutuskan untuk sendiri-sendiri?

Sabtu, 31 Oktober 2015

Sederhana, kan?



            Sudah sejak tadi pagi aku tak sabar ingin segera malam. Karena kemarin, abangku bilang, dia akan pulang, dan membawa banyak buah tangan, juga sejuta cerita. Abangku yang menempuh pendidikan kemiliteran akan pulang. Dan aku ingin mempercepat hari agar dia lekas datang. Aku ingin segera melepas rindu yang berusaha kusimpan dengan rapi namun tetap saja menumpuk di sudut ruang. Abangku juga bilang, jika perjalanan lancar, dia sampai rumah pukul delapan malam. Ah, tak sabar aku menunggunya di beranda dan membukakan pagar untuknya. Aku juga tak sabar ingin menertawakan kepalanya yang dicukur habis ala tentara.
             
Pagi ini, aku berangkat sekolah dengan semangat 45. Ingin kuhabisi hari, agar siang segera berganti. Jam pelajaran pertama adalah olahraga.  Hanya diisi pemanasan, kemudian olahraga bebas, karena Pak Guru sedang ada kepentingan, dan hanya dapat mengajar sampai pukul delapan. Ah, pukul delapan? Dua belas jam lagi kakakku akan pulang. Aku semakin tak sabar.
            
 Usai olahraga, satu jam pelajaran bahasa Arab adalah kosong. Gurunya ada kepentingan, dan tak diberi tugas. Semakin membuatku ingin pulang karena di sekolah tak ada kesibukan. Barulah di jam pelajaran berikutnya adalah bahasa Inggris. Yang lagi-lagi, sang guru ada kepentingan, dan kami  hanya diberi tugas, yang langsung kuselesaikan secara kilat. Dan pelajaran berikutnya adalah Bimbingan Konseling, yang hanya membahas naskah drama yang telah kubuat tadi malam. Sama sekali tak ada kesibukan yang berarti. Karena ada satu hal yang lebih penting hari ini: menyambut abang pulang.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Hanya Sesaat



Ujian telah selesai. Aku dan kamu juga telah selesai. Tak ada lagi pesan darurat dalam kotak masukku. Tak ada lagi kiriman gambar, dan kiriman link soal latihan. Tak ada lagi denting tanda pesan masuk. Tak ada lagi kamu, yang selama empat hari mengisi malam-malamku, mengisi sela-sela belajarku. Terima kasih kamu, mengingatkanku beberapa pelajaran yang sudah kulupa. Berkatmu, buku-buku yang sudah kutumpuk rapi, harus kubuka lagi demi menjawab pertanyaanmu. Demi kamu, Tuan, yang pernah kuharap sekadar ber-Hai padaku.

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini