Rabu, 17 Desember 2014

Duabelas, Aku Masih di Sini




Masih di tempat duduk yang sama, pagi ini aku menyaksikan beberapa pemain yang tengah melakukan pemanasan. Berlari kecil dari ujung ke ujung lapangan, mencoba tendangan jarak jauh, saling oper sesama teman, dan menguji tangkapan bolanya bagi kiper. Masih dari tempat duduk yang sama, aku melihat para supporter mulai memenuhi bangku penonton dengan segala atribut yang dibawanya untuk menyemarakkan pertandingan. Sayangnya, orang-orang itu—pemain di lapangan dan para penonton, adalah orang yang berbeda, tidak seperti beberapa bulan yang lalu. Padahal, aku masih di tempat duduk yang sama.

            Beberapa waktu lalu, ketika aku menggilai sepak bola semenjak aku bertemu salah satu pemain timnas—Bayu Gatra, kamu mengajakku ke tempat ini. Berpromosi jika olahraga yang kamu tekuni, tak kalah menarik dengan olahraga yang aku sukai. Kamu menggamit lenganku, mendudukkanku di tempat duduk ini, berpesan aku harus hati-hati, dan jangan lupa meneriakkan namamu ketika kamu berhasil menjebol gawang lawan. Aku mengangguk sedikit malas, karena antusiasme olahraga dengan 5 pemain ini, kalah jauh dibanding sepak bola. Supporter yang datang, bahkan bisa dihitung jari.

Sabtu, 13 Desember 2014

Ah, Kecewa



Sore ini rumahku kedatangan tamu istimewa. Tanpa identitas seragam merah atau biru dengan garuda di dada, aku langsung tahu siapa dia. Sepupuku, Putu Gede Juni Antara yang mengajak temannya, Mahdi Fahri Albaar. Entah bagaimana mereka berdua bisa bertemu, yang kutahu, Bli Putu berada di Surabaya dan Kak Mahdi ada di Maluku. Pokoknya, mereka berdua ada di rumahku sore ini.

            Aku langsung heboh tak karuan ketika melihat mereka ruang tamu. Mendapati seorang berkaos hitam, dan satunya memakai jaket biru ala timnas. Seisi rumah menyambut mereka berdua, dan aku segera menggandeng Bli Putu, bercerita apa saja yang lebih sering ditanggapi dengan senyum dan tawa kecilnya. Kak Mahdi hanya mesam-mesem, karena baru kali ini dia menginjakkan kaki di rumahku. Baru pertama ini dia kenal denganku. Mungkin, rada heran dengan gadis yang baru bangun tidur, bisa bercerita dengan kecepatan 100 km/jam.
            Aku tersadar sesuatu. Kapan lagi sepupuku ini datang ke rumah? Tidak pasti setahun sekali. Apalagi, rumahnya tidak di Jawa, tapi di Pulau Dewata. Kerjanya di Surabaya. Jauh, kan, dari kota tercinta? Serta-merta aku kembali ke kamar, mengambil kamera. Mengabadikan pertemuan kami berdua, ehm, bertiga, sore ini.

Senin, 08 Desember 2014

Peristiwa Malam Ini



Malam ini, aku belajar satu hal dari percakapan antara kakakku dan orang tuaku. Ini terkait perjuangan kakakku yang harus mengorbankan sesuatu yang penting baginya untuk menuju Negeri Pizza.
            “Tapi, Bunda, teman-temanku sudah dapat piagam yang dapat digunakan untuk kelas selanjutnya,” suara kakakku yang menembus tembok kamar, membuyarkan fokusku pada materi Perang Dunia II. Kubiarkan kursor berkedip. Aku menanti tanggapan bunda terhadap anak sulungnya.
            “Ravi....” lembut suara bunda menyusul. “Kaumeninggalkan klub sepak bolamu di sini, kan, untuk keberangkatanmu ke Italia. Bukannya sudah dari dulu kamu ingin ke sana? Makanya, kamu rela jauh-jauh menimba ilmu sampai Bandung demi Italia,”
            Aku tersenyum kecil. Siap mendengar tanggapan abangku.

Jumat, 05 Desember 2014

Bukan Cinta



Wejangan Mas Ravi malam ini emang bikin ‘nyesss’ banget.
“Untuk apa kaususah-susah memendam rindu pada seseorang yang tak sepenuhnya merindukanmu? Untuk apa kausulit melupakan seseorang yang bahkan tak pernah mengingatmu?” ini ‘nyess’ pertama. Bayangkan saja, jika pada kalimat awal percakapan, langsung ditodong kalimat sebegini tajamnya?

Jumat, 28 November 2014

Mungkinkah Orang Itu Menulis Ini Kepada Pemilik Blog?



Aku kembali melihatnya sore ini. Dia memakai baju berlogo klub sepak bola ternama Spanyol, dan celana jeans hitam. Mungkin, gadis itu memang menyukai klub sepak bola tersebut, karena sempat beberapa kesempatan aku melihatnya memakai jaket berlogo sama. Sore ini, dia sedang belajar fisika. Mungkin, besok dia akan ulangan atau hanya memperdalam materi karena UAS sudah dekat. Ehm, entah kenapa aku berpikir begitu. Apa karena setiap Senin dan Rabu aku selalu melihatnya? Apa karena aku selalu melihatnya mengambil air wudhu lalu sholat? Atau ada hal lain?

Jumat, 21 November 2014

Dawai Biru



Toko buku sore ini cukup ramai. Aku sudah melangkah ke lantai dua. Surga bagiku. Dengan lautan bukunya yang ingin kubeli semua, juga penataan yang rapi, serta aroma khas yang menguar di seluruh sudut ruangan, membuatku suka pada tempat ini. Sangat suka.
Pandangan mataku mengarah pada bagian buku New Release. Menatap tumpukan novel karyaku yang baru diterbitkan minggu lalu. Yang membuatku rajin datang ke tempat ini. Tiap hari mengecek berapa orang yang sudi membeli bukuku
Mataku tertumbuk pada seorang berjaket biru yang sedang berdiri di depan tumpukan bukuku. Membuka-buka buku yang tak begitu jelas jika kulihat dari sini. Mungkinkah yang dia pegang adalah bukuku? Percayakah ia bahwa aku sekarang menjadi penulis? Bukan seorang gadis yang pernah menjadi murid lesnya dulu? Yang sering ia ajari memetik dawai tiap minggu? Ada, sih, yang dia tak tahu sampai sekarang: aku selalu menunggu setiap pertemuan dengannya. Sayangnya, pertemuan itu sekarang tak pernah terjadi. Justru membuatku tersiksa karena kerinduan padanya sering meledak.
                                                      Dia yang memakai jaket biru tua.

Rabu, 19 November 2014

Merindu



            Sore ini, macam hari biasa, pulang les, aku nongkrong di depan tv, menunggu acara kuis tebak lagu di salah satu stasiun tv swasta dalam negeri. Tas masih tergantung di pundak, helm belum kukembalikan di tempatnya, dan tangan masih menggenggam kunci sepeda motor dengan gantungan kunci bergambar maskot Piala Dunia di Brazil kemarin. Aku sudah stay cool di depan layar tv, menanti salah satu penyanyi dalam acara itu yang jadi idola baruku.

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini