Jumat, 21 November 2014

Dawai Biru



Toko buku sore ini cukup ramai. Aku sudah melangkah ke lantai dua. Surga bagiku. Dengan lautan bukunya yang ingin kubeli semua, juga penataan yang rapi, serta aroma khas yang menguar di seluruh sudut ruangan, membuatku suka pada tempat ini. Sangat suka.
Pandangan mataku mengarah pada bagian buku New Release. Menatap tumpukan novel karyaku yang baru diterbitkan minggu lalu. Yang membuatku rajin datang ke tempat ini. Tiap hari mengecek berapa orang yang sudi membeli bukuku
Mataku tertumbuk pada seorang berjaket biru yang sedang berdiri di depan tumpukan bukuku. Membuka-buka buku yang tak begitu jelas jika kulihat dari sini. Mungkinkah yang dia pegang adalah bukuku? Percayakah ia bahwa aku sekarang menjadi penulis? Bukan seorang gadis yang pernah menjadi murid lesnya dulu? Yang sering ia ajari memetik dawai tiap minggu? Ada, sih, yang dia tak tahu sampai sekarang: aku selalu menunggu setiap pertemuan dengannya. Sayangnya, pertemuan itu sekarang tak pernah terjadi. Justru membuatku tersiksa karena kerinduan padanya sering meledak.
                                                      Dia yang memakai jaket biru tua.

Rabu, 19 November 2014

Merindu



            Sore ini, macam hari biasa, pulang les, aku nongkrong di depan tv, menunggu acara kuis tebak lagu di salah satu stasiun tv swasta dalam negeri. Tas masih tergantung di pundak, helm belum kukembalikan di tempatnya, dan tangan masih menggenggam kunci sepeda motor dengan gantungan kunci bergambar maskot Piala Dunia di Brazil kemarin. Aku sudah stay cool di depan layar tv, menanti salah satu penyanyi dalam acara itu yang jadi idola baruku.

Selasa, 28 Oktober 2014

Mahdi, Bayu, dan........



Cukup tergesa kakiku melangkah ke gedung ini. Kembali ke bangunan ini. Untuk sebuah urusan yang kalian tak perlu mengerti. Dengan sebuah map yang berisi dokumen entah penting atau tidak bagiku, kupeluk, melewati orang-orang yang menatapku setengah heran.  Dalam hati, aku terus merapal sebuah doa, semoga kembali bertemu dengan manusia satu itu.

Rabu, 15 Oktober 2014

Terhempas ke Masa Lalu




 Anggap saja pemuda yang kuceritakan di sini adalah Putu Gede Juni Antara.

 Sepupuku datang ke rumah sore ini. Memakai baju warna merah, celana pendek, dan wajah baru. Ya. Rambutnya yang bermodel baru—yang masih basah dengan wangi sampo, sangat jauh berbeda dengan yang kemarin. Dia juga bercerita jika tadi habis ke salon gara-gara tukang cukur langganannya sedang sakit. Dia masih saja cerita tentang rambut barunya, tak peduli denganku yang tertawa kaku mendengar celotehnya yang membanggakan rambut mohawk-nya. Dia tak mengerti kenapa aku sedingin ini melihatnya datang ke rumah—padahal biasanya aku paling heboh jika dia bertandang. Tapi, sore ini, rambut barunya, mengingatkanku pada seseorang. Pria di ujung sana.

Minggu, 05 Oktober 2014

Challenge



“Kau bisa basket?”
            “Lumayan,”
            “Baik! Kita adu di lapangan, sekarang!”
            “Hah? Sekarang?”
            “Kenapa? Kau takut?”
            “Ah, tidak. Kurasa, kau terlalu gila jika mengajakku bermain basket sekarang ini.”
            “Ada masalah dengan siang yang terik ini? Kau tak perlu risau jika tubuhmu menghitam. Aku masih punya jaket untuk melindungi tubuhmu!” dan dalam satu kali gerakan, jaket biru bergambar garuda di dada itu sudah berpindah tangan. “Ayo sekarang kita ke lapangan!”

Selasa, 23 September 2014

Dua Puluh Tiga yang Ketiga



23 September 2014.
Jika kamu masih ingat, 3 bulan yang lalu ada seorang gadis yang menahan langkahmu ketika keluar dari lapangan Universitas Negeri Yogyakarta. Jika waktu itu kamu menganggapnya spesial, tentu kamu tak lupa ada gadis yang meminta tanda tanganmu sore itu. Tapi aku sangat yakin, bagimu itu tidak penting. Yang terpenting adalah memperbaiki mental setelah kemarin kalah 0-6. Kembali berlatih untuk pertandingan selanjutnya melawan Korea Utara.

Kamis, 18 September 2014

Perenungan

Sudah lama jemariku tidak nangkring di blog. Bukan karena aku bosan, tapi karena aku tak punya waktu. Bukan karena sok sibuk, tapi memang karena tak sempat. Ah, kenapa detik berputar begitu cepat? Kenapa menit ikut-ikut berderap bagai kilat? Jam, hari, bulan, tahun, mereka semua sama-sama berjalan, tak mau berhenti, tak mau menungguku, tak mau ditunggu.

Tak terasa, aku sudah di kelas akhir. Mungkin, ini berbeda dengan tingkat akhir SMA, tingkat akhir kuliah. Mungkin, belum sebanding dengan kakak-kakak yang bergelut dengan ujian 6 mata pelajaran, berdenyut ria dengan debat karena dosen belum ACC skripsinya. Aku masih di kelas akhir tingkat SMP. Masih ujian dengan 4 mata pelajaran. Masih kecil. Masih belum ada apa-apanya dengan nanti kalau cari kerja, dan sebagainya. Tapi bagiku?

Bukan maksudku untuk 'sok'. Tapi memang, di jaman ini, salah langkah pada masa kecil, merunyamkan masa depan. Di kelas akhir ini, aku harus memikirkan ke mana lagi akan melanjutkan sekolah. Ke mana lagi aku akan melabuhkan cita-cita. Jujur, cita-citaku masih belum jelas. Masih bimbang. Antara di ini dan di itu, seandanyainya aku jadi ini, nanti kalau begitu, gimana? Kalau aku jadi itu, nanti kalau begini, gimana?

Apakah hanya aku yang mengalami kebimbangan seperti? Apakah hanya aku yang kebingungan seperti ini?

Di kelas akhir, adalah saatnya sibuk les. Meminimalkan kegiatan tak penting yang kadang malah diwajibkan oleh sekolah. Mengerjakan tugas yang melelahkan, dan malah tidak belajar mata pelajaran ujian.

Di kelas akhir, adalah kelas paling singkat, tapi paling sibuk dan menentukan masa depan. Jika salah langkah, hati-hati dengan masa depan.

Baru kali ini, aku merasakan beban. Dulu di SD, aku santai-santai saja. Tak berpikiran jika aku akan melanjutkan ke mana, tak berpikiran kalau aku nanti tidak diterima di sekolah ternama, tak berpikiran cita-cita yang masuk akal.... pokoknya pemikiranku waktu SD dan SMP, berbeda drastis! Mungkin, ini yang disebut pendewasaan.

Ah, entah. Baru 15 tahun saja, sudah merasa lelah. Bagaimana jika nanti sudah berumur 20 tahun, 30 tahun, 50 tahun? Benarkah lebih lelah dari ini?

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini