Toko
buku sore ini cukup ramai. Aku sudah melangkah ke lantai dua. Surga bagiku.
Dengan lautan bukunya yang ingin kubeli semua, juga penataan yang rapi, serta
aroma khas yang menguar di seluruh sudut ruangan, membuatku suka pada tempat
ini. Sangat suka.
Pandangan
mataku mengarah pada bagian buku New Release. Menatap tumpukan novel
karyaku yang baru diterbitkan minggu lalu. Yang membuatku rajin datang ke
tempat ini. Tiap hari mengecek berapa orang yang sudi membeli bukuku
Mataku
tertumbuk pada seorang berjaket biru yang sedang berdiri di depan tumpukan
bukuku. Membuka-buka buku yang tak begitu jelas jika kulihat dari sini.
Mungkinkah yang dia pegang adalah bukuku? Percayakah ia bahwa aku sekarang
menjadi penulis? Bukan seorang gadis yang pernah menjadi murid lesnya dulu? Yang
sering ia ajari memetik dawai tiap minggu? Ada, sih, yang dia tak tahu sampai
sekarang: aku selalu menunggu setiap pertemuan dengannya. Sayangnya, pertemuan
itu sekarang tak pernah terjadi. Justru membuatku tersiksa karena kerinduan
padanya sering meledak.
Dia yang memakai jaket biru tua.

