Senin, 05 Januari 2015

Puisi Untukmu




Untuk seseorang yang pernah menaruh harapan
Meski sebenarnya tak berniat memberi asa
Tapi ternyata membuat salah paham
Hingga menumbuhkan sebuah rasa

Ya, saya tahu, Anda sudah milik orang
Tapi, boleh, kan, saya masih merindukan Anda?
Sudah saya maki hati saya yang terlalu berani
Tapi hati saya tak peduli

Terima kasih untuk kisah
Terima kasih untuk sebentuk kenangan
Tentang saya dan Anda
Hanya tentang kita
Yang sebenarnya tak ingin usai
Tapi cepat atau lambat harus selesai

Terima kasih untuk waktu
Terima kasih untuk tak segan membantu
Walau akhirnya berhati batu
Untuk memilih ingat namun mengabaikan,
Seolah, saya adalah hal tabu

Ya, saya tahu, Anda tak punya ruang untuk saya
Saya sudah mengerti untuk tidak mengusik Anda
Tapi, boleh, kan, saya menulis cerita tentang Anda?
Saya hanya tak ingin momen-momen itu berhamburan
Melayang tak tentu arah
Hingga menghampiri Anda lagi, mengganggu Anda kembali

Saya tak menuntut Anda untuk berbalik
Saya tak menghalangi Anda yang melangkahkan kaki
Saya hanya menulis
Mengetik cerita, tentang saya dan Anda
Tentang persahabatan kita yang tiba-tiba kandas
Karam, hanya karena sebuah perhatian yang saya salah artikan

Ya, saya salah besar
Sudah sejak awal, harusnya saya tahu bahwa Anda milik orang
Saya hanya teman curhat, bukan teman hidup Anda
Saya hanya pendengar setia Anda, yang tak pernah Anda minta komitmen setia
Saya hanya gadis yang secara tak tahu diri masih mengharapkan Anda
Menoleh kepada saya pun, saya sudah bahagia
Sayangnya tidak
Mungkinkah, dunia kita berbeda? Tidak, kan?

Untuk seseorang yang mungkin sedang sibuk belajar
Untuk seseorang yang beberapa waktu lalu baru saya sadari sudah memutus pertemanan
Untuk seseorang yang masih dalam pengharapan
Sekali lagi, saya tak meminta Anda kembali
Saya hanya ingin berkata, semoga Anda tak berpura-pura lupa,
Ada hari-hari dimana hanya saya dan Anda yang berbagi cerita
Membentuk sebuah rasa yang sampai sekarang masih berdiam
Menyalakan api, yang belum sempat Anda padamkan


Semoga Anda masih ingat
Semoga Anda masih tahu
Meski telah berniat melupakan
Gadis yang menulis puisi ini, adalah teman Anda
Bukan gadis yang jadi figuran dalam hidup Anda

Kamis, 01 Januari 2015

Jika




Hujan telah berhenti. Tak meninggalkan jejak apapun selain aroma tanah basah yang kini tak menguar lagi. Hanya jejak-jejak air di luar yang malas kulihat di jalanan dan halaman rumah. Bahkan, serangga di belakang rumah, tak ikut bernyanyi, entah mengapa. Apakah ini ada hubungannya dengan dirimu atau bukan, aku tak tahu. Atau ada hal lain yang mereka sembunyikan dariku? Atau..... ah, aku malas berfilosofi. Mungkin saja, mereka tidak bernyanyi karena tenggorokan mereka sedang gatal atau terkena radang.
            
Ini sudah lewat jam dua belas malam. Dulu, aku sering melewatkan pergantian hari denganmu, bukan? Apakah kamu masih ingat ketika saat-saat seperti ini, adalah perbincangan hangat kita berada pada puncaknya? Membahas siapapun, membicarakan apapun, berkhayal sampai jauh, dan biasanya, berakhir dengan tawa yang kita gambarkan melalui emotikon. Menandakan bahwa kita begitu bahagia. Hanya aku dan kamu, tanpa melibatkan satu orang pun. Ya, hanya kita. Apa kamu masih ingat?
            
Oh ya, seharusnya aku tak perlu mengingat-ingat, bukan? Seharusnya aku melupakanmu, bukan? Satu-satunya penghubung media sosial kita sudah kamu putuskan. Jadi, bukankah seharusnya aku berterima kasih padamu yang telah repot-repot meng-klik 'Hapus Pertemanan'?
             
Asal kamu tahu, aku sudah berusaha melupakanmu. Aku sudah berusaha terlihat baik-baik saja di depanmu. Aku sudah berusaha menampakkan sikap ‘tanpa kamu, aku bisa hidup’, di depan orang-orang. Dan, mereka percaya. Bagaimana denganmu? Ehm, mungkin, kamu tak perlu pura-pura untuk itu. Semenjak kamu memutuskan menjauh, tentu kamu sudah bersikap ‘sangat baik-baik saja’ bahkan, ‘sangat bahagia’. Iya? Benarkah begitu? Tanpa memikirkan perasaan gadis yang setiap malam menanti pesan singkatmu memasuki kotak masuknya? Tentu saja kamu memikirkan, hanya saja, kamu memilih mengabaikan. Bukankah begitu?
            
Aku tak akan menulis banyak-banyak di sini. Toh, kamu sekarang sudah jarang atau mungkin, tak pernah membaca tulisanku, kan? Apa pedulimu? Pasti kamu memilih membaca pesan singkat seorang gadis yang sekarang sudah mengisi posisiku, bahkan lebih dari arti diriku dulu di hidupmu. Dulu aku hanya ‘sahabat’mu. Dia sekarang ‘kekasih’mu. Berbeda? Atau sama, hanya beda sedikit? Ah, entahlah. Oke, oke. Aku tak akan menulis banyak-banyak di sini. Tak akan, sebelum kenangan-kenangan itu membunuhku pelan-pelan. Sebelum aku menangis kencang.

Jika aku hanya temanmu, untuk apa kamu terlalu sibuk mengajariku tak ingat lagi padamu?
Jika aku bukan temanmu, untuk apa kamu sibuk membaca tulisanku, lalu menghubungkannya padamu?

Rabu, 31 Desember 2014

Beberapa Keping Setahun Terakhir




Sampai di penghujung tahun 2014. Di sini, aku tak akan menulis panjang-panjang. Hanya, cerita, mengapa aku menganggap tahun ini begitu istimewa.
             
Awal tahun 2014. Tepatnya, tanggal 5 sampai 8 Januari 2014. Untuk pertama kali, menghirup udara kota Bandung. Untuk pertama kali, melewati terjalnya Jalan Daendels. Untuk pertama kali, mendengar langsung bahasa Sunda yang begitu kental, dan untuk pertama, pergi jauh-jauh dengan lebih dari seratus manusia seumuran. Ehm, se-angkatan, dalam program study tour. Oh iya, untuk pertama kali, berada di Trans Studio yang, yah, untuk penghuni sebuah kota kecil nan terpencil ini, wahana bermain dan belajar itu adalah spesial.
            
Bergerak lagi menuju bulan berikutnya. Lagi, untuk pertama kali, aku mendapat tugas membuat film. Santai, tak usah panik ketinggalan kereta. Cerita-ceritaku masih dalam bentuk tulisan. Film ini bukan tentang tulisanku, kok. Haha. Film yang kubuat tahun ini adalah Proklamasi Kemerdekaan. Untuk pertama kali, merasakan susahnya jadi penulis skenario, pengarahan pemain—kurang lebih sutradara, editor, aktrisnya pula. Begadang demi baiknya film ini, malah yang jadi perhatian adalah behind the scene yang kubuat Cuma-Cuma. :) Tapi aku rapopo. Dapat tanggapan bagus dari penonton itu sudah lebih dari cukup, kan, baru pertama kali.

Senin, 29 Desember 2014

Pungguk Ingin Bulan



Hai. Sepotong kata sapa yang tak aku ucapkan ketika pertama kali melihatmu. Tentu saja. Karena kamu adalah manusia yang terlalu berharga jika hanya dipanggil dengan “Hai”.

Siang ini, aku sendirian. Menanti kakakku yang sedang kuliah, dan aku baru saja menghabiskan 1 film dari Thailand, judulnya Hello Stranger. Ehm, memang tak ada hubungannya dengan dirimu. Sekedar cerita, betapa sepinya saat ini, dan tiba-tiba aku ingin tahu kabarmu.

Berhubung, tweet terakhirmu tanggal 21 Juli—sama sekali tak mencerminkan kabarmu, aku memilih melihat-lihat foto-foto yang kauunggah di twittermu—yang belum kulihat sampai unggahan foto pertamamu. Satu per satu foto tampil di layar monitor bergantian. Ada senyum tipis, senyum lebar, tawa, wajah bingung, ekspresi datar, dan satu pose yang hampir sama dengan yang kautunjukkan saat di depanku. Senyum tipis, dengan tangan ke belakang. Rata-rata, itu gaya yang kaubagikan di depan kamera, jika di sampingmu adalah wanita yang tidak kaukenal. Berarti, aku adalah gadis yang tidak.... ehm, #YouknowwhatImean.

Tapi, ada satu foto di twittermu yang membuatku mengumpat pelan. Kamu, dengan kekasihmu. Senyummu di gambar itu, tak beda jauh dengan senyum yang sekarang berada di salah satu akun media sosialku. Ya, hanya senyum tipis. Yang berbeda adalah posemu di situ. Satu tanganmu memegang kamera, dan kamu sedikit mendekat dengan wanita itu. Dengan kalimat di bawah foto itu: Di belakang pria hebat, pasti ada wanita tegar.

Seharusnya aku baik-baik saja melihat foto itu. Seharusnya aku baik-baik saja membaca kalimat itu. Seharusnya aku baik-baik saja menyadari bahwa kamu bukan pemuda yang sedang sendiri. Seharusnya aku tak sejauh ini memaknai dirimu bukan lagi idola. Seharusnya aku yang tahu diri bahwa kamu bukan pangeran yang sedang jatuh cinta dengan gadis biasa sepertiku. Seharusnya aku tak menganggap awal pertemuan kita akan berlanjut dengan saling jatuh cinta.

Sayangnya, aku tak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa aku tak suka melihat fotomu itu. Bahwa, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Bahwa, jantungku berdetak tak teratur, bahwa air mataku ingin meluncur, bahwa aku ingin menjadi wanita itu—yang berada di sampingmu—mengiringi perjalanan karirmu. Bahwa, aku ingin menjadi wanita beruntung yang setiap saat kauingat, bukan wanita beruntung yang sekali ketemu, langsung kaulupakan. Aku tak bisa memungkiri hal ini.

Oke, baiklah. Entah, tulisan ini kaubaca atau tidak, kaumenginginkan ini atau tidak, aku mengunggah tulisan ini hanya untuk berbagi rasa kepada para pembaca. Mungkin di luar sana, ada yang bernasib sama denganku. Mengharapkan seseorang yang sama sekali tak mengharapkan diri ini. Selamat siang.

Sabtu, 27 Desember 2014

Kita (masih) Teman, kan?



Hai, Teman, selamat malam. Maaf, aku mengganggumu malam ini. Bukan maksudku membuang waktumu hanya untuk membalas pesan singkat dari temanmu ini. Bukan maksudku memaksamu membalas pesan singkat yang kukirim. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu jika waktumu malam ini terlalu berharga, karena kamu sedang bersama-nya. Aku benar-benar tidak tahu, bahwa posisiku sebagai teman, sahabat, tempat keluh-kesah, pendengar yang baik, sudah digantikan oleh seseorang yang kaunamai ‘kekasih’. Maaf, Sobat.
             
Ehm, aku baru tahu, ketika kekasihmu itu mengunggah fotomu yang tengah tersenyum lebar di kamera dengan dia. Oh, tidak, aku tidak ada masalah dengan kekasihmu. Tak ada yang salah di sini. Semuanya baik-baik saja. Kamu tak perlu khawatir, hatiku masih bisa diajak kompromi. Teruskan saja waktumu dengan dia. Jangan lupa, hapus jadwal-jadwal liburan kita yang sudah kita susun jauh-jauh hari. Hapus juga, daftar lagu dan film terbaru yang sudah siap kita buru. Hapus saja. Bakar sekalian, sampai jadi abu, hingga tak mengganggumu.
            
Jika kamu ingin menghubungiku karena kekasihmu sudah pulang, aku masih ada di sini. Kamu masih bisa meneleponku di nomor yang sama. Kamu masih bisa menghubungiku dari akun sosial media yang sama. Tak ada yang kuubah. Nama, email, dan password yang kauhafal di luar kepala, juga masih sama, kok, Teman. Tenang saja, aku masih di sini, meskipun kamu di sana, dengan seseorang.
            
Atau kamu sudah tak perlu menghubungiku, karena sudah ada yang selalu menghubungimu? Sudah ada yang selalu mengingatkanmu sholat, makan, dan istirahat. Sudah ada yang mengajakmu jalan-jalan. Sudah ada yang katanya selalu ada untukmu, bukan? Jadi, aku sekarang, tak perlu seperti itu? Hanya boleh bertanya tugas sekolah yang ini dan itu? Dan, sekarang adalah libur panjang, tak ada tugas, so, aku tak boleh menghubungimu?

Kamu Harus Baca Ini

#SWORDS's After Story

Hidupku tidak banyak berubah, seandainya kamu ingin bertanya keadaanku kini.              Bersyukur banyak-banyak karena sekolah lanjut...

Banyak yang Baca Ini